Senin, 11 April 2011

Aparat Telah Mengadili Keyakinan

... M. Syafi'ie

Penangkapan dan penstigmaan terhadap aktifis Islam bukanlah cerita baru di Indonesia. Rentetan panjang sejarah semenjak kemerdekaan Indonesia, aktifis Islam selalu jadi korban kekerasan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan rezim penguasa. Tujuannya satu, biar umat Islam menjadi kerdil dan penakut. Itulah sekelumit ungkapan ustad Didi, Wakil Ketua DDII Sragen saat diwawancarai disela-sela kesibukannya mengikuti pertemuan aktifis Islam Yogyakarta-Solo di Kaliurang (13/10/2009).

Tidak ada paling menyedihkan sepanjang tahun ini selain penangkapan sewenang-wenang dan stigmatisasi aparat kepolisian terhadap aktifis Islam. Penangkapan itu dibarengi dengan propaganda yang intesif untuk memojokkan aktifis Islam. Banyak media yang berjejaring dengan penguasa memberitakan secara live dan sistemik menghancurkan keyakinan dan kultur yang ada dalam Islam. Simbol-simbol yang dianut oleh sebagian Islam seperti berjenggot, bercelana jinkrang, sering berpuasa, mengaji dan lainnya dicap sebagai indikasi hidupnya kekerasan pada seorang muslim.

Dampak yang paling serius propaganda penguasa ialah hadirnya perasaan publik yang benci dan curiga pada aktifis Islam yang mempraktekkan simbol-simbol yang ada. Namun bagi ustad Didik, apa yang diwacanakan media, penguasa dan perasaan publik yang negatif terhadap aktifis Islam itu harus seimbang, ”saya mengakui banyak perspektif terhadap umat Islam yang dituduh teroris penguasa hari-hari ini, tapi bagi saya semua itu harusnya dikembalikan kepada aturan syariat. Ajaran Islam itu, mengajarkan kekerasan tapi dalam makna jihad, bahkan bagi saya Islam itu bisa disebut garis keras tapi bukan sembarangan. Ada orang bersalah langsung dipukul tidak begitu. Keras dalam Islam itu maknanya ialah tindakan tegas, dimana orang Islam dan dimana orang kafir. Jadi jelas posisi dan garis perjuangannya, ungkap ustads Didik.
”Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa didunia ini akan dibagi dua golongan besar, pertama golongan Islam dan kedua golongan kafir. Disana juga jelas dimana konsekwensi-konsekwensinya. Orang kafir itu ialah orang-orang yang menutupi kebenaran Al-Quran dan Sunnah Rasul. Tindakan kufur menolak eksistensi keberadaan Allah. Selain kafir itu ada thaqut termasuk syetan, yaitu apa-apa yang diibadahi selain Allah. Banyak sekali thaqut itu. Bahkan kita terlalu mencintai TV itu aja, maka TV itu telah menjadi thaqut. Termasuk sepak bola, tinju, dan lain-lain itu akan menjadi thaqut kalau itu terlalu dicintai. Maka Allah memerintahkan “Sembahlah Allah dan Jauhilah Thaqut”. Tindakan yang mengarah pada kafir itu juga ada dzalim, dan fasiq.

Maka menjadi sangat wajar bagi seorang muslim meyakini ajaran agamanya soal adanya label muslim, kafir, fasiq, dzalim, thoqut, munafik dan lainnya. Karena dengan klasfikasi itu perjuangan itu akan ada. Apa yang mau dibela dan harus dilawan itu jadi jelas. Disitulah tugas dakwah dan jihad itu hadir. ”Makanya saya sangat sedih, ketika para ustads ditangkapi dan diadili secara sewenang-wenang karena berarti aparat negara itu menangkapi dan mengadili keyakinan. Mereka menghilangkan dan memaksakan keyakinan tertentu kepada warganegaranya. Logika mereka dipaksakan, dikampanyekan biar diikuti para ustads. Tindakan aparat sudah sangat jelas telah melanggar hak asasi orang Islam, yang itu adalah hak yang sangat mendasar”, kritik ustad Didi.

Negara Pelaku Kekerasan Sebenarnya

Pelanggaran hak asasi yang dilakukan negara berupa pemaksaan untuk menghilangkan keyakinan jihad, propaganda penegatifan simbol-simbol, pemaksaan reformasi kurikulum pesantren dan pengawasan para ustads, jelas sudah sangat keterlaluan di negara hukum seperti Indonesia. Bukankah keyakinan ialah satu kebebasan yang harus dijamin negara, kebebasan berpendapat juga dijamin negara. Mengapa negara aktif memaksa keyakinan ditengah posisinya yang harus pasif?.

Bagi ustads Didi, apa yang telah diyakini ustads-ustads jelas berlandasan pada Al-Quran dan Al-Hadist. memang dalam tindakan nyata, apa yang diniatkan seringkali berbeda dengan tindakan nyatanya. ”Seringkali keyakinan itu berdampak pada yang negatif seperti melukai orang lain, membuat marah, dan lainnya. Nah, kita dalam negara hukum yang ada konstitusinya maka kalau keyakinan ada dampaknya pada orang lain maka yang ditindak itu semestinya tindak pidananya, bukan malah menindak terhadap keyakinannya. Itu sama sekali tidak benar”.
”Penangkapan-penangkapan terhadap yang dituduh teroris itu tidak adil, ditangkap tanpa surat penangkapan, kepastian hukumnya baru 7 x 24 jam. Semestinya menggungakan mikansme hukum seperti biasa, disidangkan terlebih dahulu di meja peradilan. Apalagi perkembangan terakhir semakin parah, ditembak mati di tempat, ini jelas pelanggaran hukum dan hak asasi manusia. Kalau kita mendasarkan pada Quran dan sunnah rasul, jelas tindakan sewenang-wenang seperti itu dilarang. Saya tidak setuju dengan prilaku yang tidak manusiawi seperti itu”.

”Saya berpendapat bahwa aktor kekerasan sebenarnya ialah negara. Dimana negara telah aktifi melakukan kekerasan. Termasuk terhadap aturan, kitakan punya acuan hukum sesuai Quran dan hadist, nah kalau ini tidak diakui jelas ini suatu pelanggaran hak asasi manusia juga. Padahal kita tahu juga dalam pembukaan UUD itu disebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia didasarkan atas rahmat Allah. Kalau bagi umat Islam ini mengartikan bahwa kemerdekaan itu diberikan oleh Allah. Maka bagi penganut syariat Islam, keyakinan mereka harus dijamin, karena dalam UUD 1945 termasuk hak yang dijamin ialah kebebasan dari beragama. Kita dipaksa untuk melepaskan hak-hak keyakinan kami”, ungkap ustad Didik berapi-api.

Negara ditunggangi Pihak Ketiga

Di balik kekerasan yang dilakukan negara atas propaganda wacana terorisme sebagian umat Islam sudah mulai kritis. Termasuk ustads Didi, menurutnya terorisme tidak ubahnya ialah perang opini untuk menjadikan negara-negara Islam sebagai jajahan ekonomi. Termasuk Indonesia, umat Islam yang mayoritas sekedar dijadikan alat bagi proses kolonialisasi rezim kapitalisme global yang bekerjasama dengan penguasa. Islam tumbal dari percepatan penguasan penguasa kepitalisme global terhadap aset-aset di negeri ini, ungkapnya.

”Kalau kita mengkaji dan belajar dari negara Islam yang bergejolak seperti Afganistan, Irak, Iran dan lain-lain itu, dan dikaitkan dengan peristiwa WTC 11 September, sudah sangat jelas bahwa semangat jihad itu senyatanya untuk melakukan perubahan, melawawan kedzaliman, melawan kemungkaran. Tapi semangat ini saya tahu dilumpuhkan secara sistematik oleh musuh-musuh Islam. Awalnya yang dilumpuhkan itu konsep-konsepnya, ajaran-ajaran jihad tidak ditekankan bahkan tidak diberikan kepada umat Islam. Padahal puncak dakwah sebenarnya itu ialah jihad fi sabilillah. Kita juga paham, bahwa jihad itu tidak asal seruduk. dalam Al-Quran diberitahukan biar ada tahapan dan persiapan terlebih dahulu, kuda-kuda dan lain sebagainya. Ini menegaskan bahwa jihad itu tidak sembarangan, butuh ilmu, butuh jemaah, butuh pemimpin, biar jihad itu terarah, tepat sasaran sesuai dengan syariat Islam”.

”Aktor di belakang wacana terorisme ini jelas, yaitu mereka yang dalam istilah Al-Quran itu sebagai orang-orang kafir, fasiq, dzalim, dan thaqut. Pemerintah yang masih punya hati nurani harus berhati-hati. Kita harus membangun kemandirian dalam bernegara ini. Apa yang menjadi kepentingan rakyat yang mayoritas Islam itu harus dibela. Jangan sampai konsep-konsep yang kita bangun itu mengambil dari yang berbau barat, Amerika dan kawan-kawan. Jangan sampai konsep-konsep yang digunakan pemerintah itu malah melawan terhadap kepentingan umat Islam yang mayoritas di negeri ini. Jangan sampai yang dibangun dan dikembangkan pemerintah itu ialah konsep-konsep kolonialisme dan neo kolonialisme”.

”Kita harus sadar bahwa umat Islam ini sebenarnya adalah korban untuk memperlancar kepentingan-kepentingan mereka dalam menjajah Indonesia ini. Biar mereka mudah maka umat Islam dijadikan alat. Ini harus menjadi perhatian kepada pemerintah khususnya yang beragama Islam, mereka harus sadar, memahami dan berfikir kritis bahwa mereka dalam menjalankan kekuasaan memang betul-betul harus ingin memajukan negara dan bangsanya”

Umat Islam Tidak Seperti yang Disangkakan

Sebagaimana muncul di media bahwa umat Islam terbagi-bagi menjadi beberapa kutub, salah satunya ialah Islam politik. Bagi ustad Didik Islam tidaklah demikian, ”Saya yakin bahwa umat Islam itu sebenarnya tidaklah bertujuan merebut kekuasaan, tidak ada istilah itu, yang ada ialah umat Islam itu ingin menegakkan kalimat Allah, keadilan, dan kebenaran di muka bumi ini, khususnya Indonesia. Tidak ada istilahnya bahwa Islam itu ingin merebutkan kekuasaan, ingin melakukan eksploitasi, merampas hak-hak rakyat, tidak benar itu. Umat Islam semata-mata Islam itu ingin terbangunnya kemaslahatan umat di muka bumi. Termasuk kemaslahatan bagi kaum dzalim dan orang-orang yang memesuhi Islam ini. Mereka harus didakwahi, untuk keselamatan dia sendiri di dunia dan akhirat. Jadi bukan kepentingan khusus umat Islam saja. Tidak. Kalau seperti itu bukannya prinsip perjuangan dalam Islam namanya. Allah mengutus nabinya, bukan hanya untuk orang Islam tapi untuk rahmatan lil alamien”.

”Kalau negara ini masih melakukan kekerasan dan penangkapan-penangkapan sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini berarti negara telah memancing-mancing untuk memusuhi Islam. Sedangkan secara syar’i kalau orang-orang Islam dimusuhi itu berarti petaka, karena Islam diakui kebenarannya di sisi Allah. Umat islam dimusuhi pasti Allah murka nanti. Ya lihat saja mulai musibah-musibah dan problem-problem negara yang tak teratasi. Kalau penguasa itu masih mengaku sebagai orang beragama Islam, maka dalam kondisi sekarang ini kita berkewajiban untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Kebenaran sesuai ajaran yang ada dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Kalau tidak mau, mereka menolak pasti bukan rahmat Allah yang akan diberikan”.

”Mas, sekali lagi saya sedih, karena penguasa hari-hari ini jelas telah menghianati ajaran-ajaran Allah dan Rasulnya”, ungkap ustad Didi sambil menundukkan kepalanya. ”Penguasa hari ini telah menghancurkan makna dan semangat jihad, mereka hancurkan persaudaraan, tauhid sudah dihilangkan, dan mereka serahkan sumber daya alam untuk asing, akhirnya kita tidak ditolong Allah. Semuanya diserahkan kepada tangan-tangan jahil, thaqut, dan kaum yang mengingkari Allah sehingga yang terjadi ialah kerusakan di muka bumi. Kita sebagai masyarakat akhirnya paham. Ustad-ustads yang ditangkapi inikan berniat berjuang dijalan Allah sedangkan aparat dan penguasa itu bergerak dalam niat mencari uang, diperintah uang, diperintah untuk mencari kekuasaan. Siapapun termasuk orang awam sudah pasti paham dimana yang benar. Uang dan kekuasaan telah membutakan kebenaran dan keyakinan mereka sehingga mereka mengabdi dalam jalan yang salah”.

”Dalam kondisis transisi ini, yang harus dilakukan pemerintah, pertama, mereka harus paham betul bahwa tindakan mereka seringkali menyimpang dari konstitusi. Dalam UUD 1945 itu sudah jelas sekali tentang perlindungan terhadap hak beragama dan hak asasi manusia. Semestinya penguasa itu konsisten dan berkomitmen menegakkan konstitusi. Kedua, pemerintah itu semestinya dekat dengan ulama’ bukan menjauhi ulama, dan jangan sampai mengambil pembantu-pembantu yang memprovokasi untuk menjauhi ulama’. Sebab kalau seperti itu yang lahir pasti kedzaliman. Karena pemerintah berarti bersekutu dengan syetan-syetan. Segala usaha-usaha pemerintah pasti tidak akan mendapat barokah, dan yang paling ngeri mereka kalau mati pasti tidak akan membawa iman. Ulama’ itu tidak pantas dijauhi, ditangkapi, diisolir dan dimusuhi. Tindakan aparat yang seperti itu jelas tidak mensyukuri terhadap karunia dari Allah di muka bumi ini”. Jelas ustads Didik mengakhiri percakapannya.

Tidak ada komentar: