Senin, 11 April 2011

Jurnalisme Investigasi

... M. Syafi'ie

Umumnya jurnalisme diartikan sebagai seni publikasi dalam komunikasi. Jika komunikasi dimaknai sebagai proses penyampaian informasi berupa pesan, ide atau gagasan kepada pihak lain sehingga ada interaksi antara satu dengan pihak lainnya maka jurnalisme adalah bagian alat dari proses-proses komunikasi tersebut. Jurnalisme adalah subsistem dari sistem komunikasi.

Jurnalisme sangat penting adanya dan tanpanya tidak dapat dibayangkan akan seperti apa carut marutnya dunia ini. Selain alat komunikasi dan informasi , jurnalisme sangat dibutuhkan dalam melakukan tranformasi sosial, politik, ekonomi dan budaya. Bahkan sampai saat ini jurnalisme terbukti telah menjadi sentrum perubahan-perubahan yang telah terjadi. Jurnalisme mengabarkan kabar gembira tentang keadilan dan kebenaran dalam ruang-ruang yang penuh penindasan dan kebohongan. Sangat wajar jika jurnalisme ditempatkan sebagai pijakan perwujudan demokrasi.
Jurnalisme menjadi alat investigasi yang efektif mengurai secara terang rusaknya sebuah tatanan. Itulah Jurnalisme investigatif yang disebut Santana (2003) sebagai sebuah faham yang sudah lama muncul di Amerika Serikat pada abad ke-17. Di Indonesia model media massa yang investigatif yang seperti ini muncul menjelang tumbangnya rezim otoriter Soeharto.

Secara garis besar jurnalisme investigatif merupakan sebuah metode peliputan untuk menyibak kebenaran kasus atau peristiwa. Seorang wartawan dituntut mampu melihat celah pelanggaran, menelusurinya dengan energi reportase yang menggugat, membuat hipotesis, menganalisis, dan pada akhirnya menuliskan laporannya. Energi jurnalisme mengkencang jikalau terjadi penyimpangan-penyimpangan. Pers punya peranan sangat penting untuk dapat menginformasikan peristiwa yang menyimpang itu. Bahkan pers dapat melangkah jauh dapat mengusut kesalahan, menemukan kebenaran, dan mendorong sebuah perubahan.

Dalam konteks advokasi umat maka tidak dapat dielakkan peran penting dari jurnalisme investigatif. Korban-korban pelanggaran hak asasi manusia yang menimpa umat Islam dalam banyak kasus kita sadar bukanlah peristiwa biasa. Kasus yang terjadi semuanya bersumber dari kepentingan struktural kekuasaan. Misalnya korban Komando Jihad, Usroh dan asas tuggal merupakan akibat dari kesewenangan-wenangan orde baru. Penguasa merasa terancam akan hadirnya Islam politik yang jelas akan mengganggu kekuasaan orde baru. Sehingga pemerintah orde baru begitu bernafsu menghancurkan kekuatan umat Islam. Termasuk korban dalam kasus terorisme. Mereka adalah tumbal dari rekayasa penguasaan minyak AS di dunia-dunia Islam.

Dalam kasus-kasus tersebut dimana kekuasaan begitu dominan dan konspiratif, keberadaan pers menjadi alat yang ampuh untuk membuka kebohongan-kebohongan. Seperti pada tahun 1969 ketika muncul berita investigasi yang cukup menggegerkan kalangan militer AS. Isinya mengungkap kejahatan tentara AS di Vietnam. Pembantaian ribuan warga sipil vietnam oleh serdadu Amerika itu dikupas tuntas oleh Seymour Herst, mantan reporter Associated Press. Dengan gaya penulisan yang elegan dan jauh dari sensasi. Tahun 1973, Herst juga membuat berita cemerlang yang mengungkap upaya menutup skandal Watergate yang melibatkan Presiden Nixon. Herst, yang saat itu bekerja untuk New York Times, berhasil mengorek keterangan dari empat saksi yang dibayar untuk melakukan pekerjaan itu. Prestasi Herst terulang lagi ketika dia kembali sukses mengungkap skandal CIA yang secara melanggar hukum memata-matai warga negara AS sendiri di dalam negeri.

Sungguh membanggakan tentunya ketika jurnalisme mendorong pengungkapan kebenaran. Seorang reporter dengan kemampuannya dapat memperterang hal-hal yang tersembunyi dan disembunyikan oleh kekuasaan. Oleh karenanya kerja-kerja jurnalisme bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang reporter yang bergerak di lapangan mencari berita baik lewat observasi ataupun wawancara dituntut mempunyai keahlian yang memadai. Kerja-kerja jurnalisme ternyata tidak cukup dengan sekedar ideologi.

Tidak ada komentar: