Senin, 11 April 2011

Kekerasan dan Modernitas

... M. Syafi'ie

Ketika berbagai ruang sudah dipenuhi dengan gembita kekerasan dan penindasan mulai dari Kebijakan publik yang tidak lagi memihak kepada masyarakat sampai pada sikap pragmatisme sosial yang tidak berfikir terhadap sekitarnya. Dalam dimensi inilah makna hidup yang dimiliki akan terasa hampa, sepi dan disharmonis.

Kehidupan yang melandaskan pada makna haya’ yang berarti hidup, aktif dan dinamis dalam realitas yang penuh dengan kekerasan dan penindasan sesungguhnya telah menafikan terhadap eksistensinya. Kehidupan tidak ubahnya hanyalah persinggahan yang hampa dan ironis serta bagi mereka yang menghadapinya kehidupan sebenarnya bukanlah hidup melainkan rasa hidup yang kumuh, gelisah dan dikejar oleh persoalan-persoalan yang sesak.
Sulitnya mendapatkan hidup yang sejati dan harmoni relevan dengan era modernitas saat ini. Dimana manusia sudah tercampak dan menghamba pada ruang yang material dan menghilangnya sprit spritualitas transdental. Materialisme dan meniscayakan terhadap ukuran rasionalitas menjadi ideologi seseorang bersosial dan membangun kehidupannya. Dampak dari pengultusan terhadap rasionalitas modern akhirnya hubungan kemanusiaan terbangun atas kepentingan-kepentingan yang berorentasi pada wujud materi. Disinilah relevansi kritik atas modernitas itu dapat diterima dalam pikiran kita, dimana salah satu yang tidak dapat dipisahkan darinya ialah sistem cost benefit (nilai untung rugi) serta memotivasi terciptanya bangunan kemanusiaan berkarakter penjajah.

Realitas yang tidak dapat kita pungkiri saat ini bagaimana sistem hubungan masyarakat sudah memberhalakan atas kebutuhan dan kepentingan ekonomi an sich, maka kita akan menemukan bagaimana manusia berkerabat karena kekayaan belaka, bersaudara karena kepentingan kepangkatan dan jabatan, berteman karena keberadaannya dapat diandalkan sebagai relasi ekonomi atau mempermudah mendapatkan pekerjaan kelak sampai pada persoalan pernikahan yang hanyalah berorentasi pada kecantikan, kekayaan serta pangkat jabatan. Inilah problem kemanusiaan era modern ini dimana semuanya diukur atas kepentingan ekonomi dan untung rugi.

Implikasi dari sistem tersebut semakin terpinggir dan tertindasnya kaum mustadafien dan mereka yang tidak menjanjikan secara ekonomi. Kearifan-kearifan yang sebenarnya hidup dalam eksistensi kemanusiaan seseorang memudar serta kearifan-kearifan yang hidup menjadi sistem sosial terdahulu yang berupa nilai gotong royong, sikap senasib sepenanggungan serta relasi kebersamaan saat ini juga memudar digantikan dengan sistem yang individualistik, pragmatis dan hedonis. Pada titik ini pertanyaan yang segera muncul dari mana kita harus memulai dan membuat ideologi tanding sebagai counter terhadap modernitas yang materialistik akut ini?.

Menurut saya krisis kemanusiaan saat ini salah satu latar belakangnya disebabkan karena tergerusnya nilai spiritual transdental yang nota bene benteng dari paradigma seseorang dalam menghadapi realitas. Sebagaimana kita memahaminya bahwa spiritual transedental merupakan perbincangan tauhid atau keberadaan tuhan yang menguasai segenap alam. Pengakuan terhadap keberadaan tuhan sebagai pengatur hidup meniscayakan untuk mengabdikan segenap kuasa makhluk kepada tuhannya. Pengabdian dan berhidup seseorang harus diorentasikan dan disandarkan kepada eksistensi tuhan sebagai pengatur hidup.

Dalam konteks inilah bagaimana keberadaan makhluk tidak boleh menyekutukuan terhadap keberadaan tuhan dalam bentuk apapun, termasuk pengkultusan terhadap kekuasaan, kecantikan, harta benda atau penghambaan terhadap materi-materi lainnya yang nota benenya akan merusak terhadap kemahakuasaan tuhan. Untuk itulah seluruh potensi yang berupa kekuatan, kekuasaan atau materi-materi lainnya harus semata diabdikan untuk mengejewantahkan perintah tuhan di muka bumi (kholifatullah fil ard)

Kesemaruatan dunia saat ini saya meyakininya sebagai efek dari modernisasi yang kapitalistik, dimana eksistensinya sudah membentuk paradigma materialistik yang secara sistematik didesakkan melalui sains dan tekhnologi. Perubahan prilaku dan life style masyarakat yang begitu cepat dan pesat kalau kita menelusuri dan memahaminya tidak lain akibat dari propaganda melalui berbagai media yang berupa televisi, koran, radio, serta media-media lainnya yang setiap saat berkembang dengan sedemikin rupa.

Perbincangan mengenai kekerasan dan penindasan sebagaimana disinggung di awal tulisan, dalam perspektif modernisasi yang materialistik saat ini menegaskan bahwa terdapat relasi yang sangat signifikan dan esensial antara kekerasan dan penindasan yang muncul dengan sistem kapitalistik yang menguasai tata dunia global saat ini. Dimana silih bergantinya kekerasan dan penindasan baik dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial ataupun bidang-bidang lainnya merupakan pertautan yang cukup kuat pada orentasi materialistik.

Paradigma materialisme masyarakat secara tidak langsung mendesakkan terabaikannya simpati sosial serta penghargaan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia universal dalam kehidupan mereka. Sehingga sangat wajar budaya oral tanpa bukti, budaya cepat lupa ataupun budaya perdebatan artifisial dan tidak membumi – kerap dan sering terjadi di dunia saat ini – utamanya di bumi Indonesia. Allahul Musta'aan.

Tidak ada komentar: