Jumat, 08 April 2011

Korban Komando Jihad

 ... M. Syafi'ie
Suratman itulah namanya. Seorang Bapak yang sudah tua dan rambutnya sudah mulai memutih. Usianya sudah tidak muda lagi. Ia lahir sewaktu menjelang proklamsi Indonesia tahun 1943. Anak-anaknya sudah bekerja dan beranak-pinak. Anak asuhnya juga banyak. Walaupun begitu Suratman tidak lupa menceritakan kekerasan aparat yang menimpanya di masa lalu, di awal rezim orde baru. Pertamakali berjumpa dengannya terlihat wajah bersihnya, sabar, berseri-seri dan bercahaya. Wajarlah setelah ditanyakan Suratman ternyata adalah seorang guru dan imam masjid.

Mungkin kita masih ingat dengan peristiwa kekerasan terhadap umat Islam tahun 1970-an yang dikenal dengan istilah Komando Jihad. Satu istilah yang sampai sekarang masih polemik pendefinisian dan peristilahannya. Walaupun korbannya ribuan tetapi kasus ini seakan telah dilupakan. Dokumen yang paling pasti, peristilahan Komando Jihad dilahirkan di meja pengadilan dan kejaksaan. Satu institusi Negara yang berkesatuan dengan kerja-kerja kepolisian dan militer di masa orde baru. Lembaga-lembaga itu semuanya dibawah kendali pemimpin tertinggi Soeharto.
Komando Jihad ialah salah satu peristiwa pelanggaran hak asasi manusia berat di Indonesia yang korbannya ialah umat Islam. Ribuan aktifis Islam ditangkapi secara sewenang-wenang, disiksa, dipenjara tanpa prosedur dan vonis tanpa landasan hukum. Diantara aktifis Islam itu bahkan ada yang dihukum mati. Peristiwa kekerasan dan kesewenang-wenangan itu semua dibangun dalam konteks penghancuran politik umat Islam pasca pemusnahan komunisme PKI. Ali Murtopo seorang OPSUS dan tangan kanan Soeharto menyebut tahun itu sebagai tahun yang menentukan bagi kekuasaan orde baru pasca krisis Orde Lama. Sesuai cita-cita Ali Murtopo, akhirnya peristiwa Komando Jihad turut mengantarkan pada menunggalnya dan refresifnya kekuasaan politik orde baru.

Tidak sedikit korban dari rekayasa politik Komando Jihad. Ribuan orang jumlahnya di seluruh Indonesia. Salah satunya ialah Suratman yang kala itu masih remaja. Peristiwa hiruk pikuk politik orde lama dan peralihannya ke orde baru, Suratman masih merasakannya. Sebagaimana ungkapannya, “Saat itu saya masih remaja, konstelasi politik tidak menentu, isunya kemana-mana, umat Islam seakan berebut dan bertarung dengan kelompok komunis. Ditengah kondisi dan isu yang berhamburan itu, saya harus masuk ke rumah-rumah berebut anak asuh biar tidak dimasuki ideology komunisme”, ungkap Suratman.

Pergolakan politik perpindahan kekuasaan dari rezim orde lama ke orde baru mengganjal studi jenjang kemahasiswaannya. Dia harus menganggur beberapa bulan. Ditengah ketidakpastiannya kuliah karena pergolakan dan transisi politik tahun 1965. Akhirnya Suratman bisa juga kuliah di IAIN fakultas Tarbiyah. Sewaktu masuk kuliah inilah Suratman berkenalan intensif dengan banyak aktifis Islam walaupun dia akui sudah menjadi aktifis Ikatan Pemuda Muhammadiyah Yogyakarta.

“Saya dulu aktif di organisasi Ikatan Pemuda Muhammadiyah mas, di organisasi inilah saya banyak belajar tentang bersikap dan bergerak. Sampai saat ini, saya menjadi pendidik karena cita-cita saya akan mencetak generasi yang “Muslim Minded” yaitu anak-anak yang menjadikan Islam sebagai prilaku kehidupan. Saya ingin memperjuangkan Islam lewat pintu pendidikan”, ungkap Suratman.

Selama kuliah Suratman akhirnya berkenalan dengan aktifis-aktifis Islam yang disebut penguasa sebagai aktifis Islam garis keras di kemudian hari. Beberapa temannya dituduh terlibat dalam gerakan Komando Jihad. Sebutlah namanya Ahmad dan Dillah, bukan nama yang sebenarnya. Sewaktu kuliah diakuinya kedua temannya itu sangatlah akrab karena memang mereka sama-sama mendapat beasiswa dari pemerintah Indonesia. Hubungan yang sebenarnya tidak diikat oleh kasamaan ideologi. Pasca lulus hubungan persaudaraan Suratman dengan mereka masih berlangsung.

Namun hubungan dengan kedua temannya tidak berjalan baik. Kedua temannya Ahmad dan Dillah ternyata diuber oleh polisi karena dituduh terlibat dalam gerakan Komando Jihad. Tanpa disangka satu temannya Dillah mendatangi rumahnya pada tahun itu. Tidak ada cerita yang begitu menegangkan dari temannya itu, kecuali perbincangan pertemanan yang biasa. Suratman menjamu Dillah seperti saudara yang apa adanya, tanpa beban dan memberinya tempat yang lapang dirumahnya. Karena dia yakin temannya Dillah bukanlah seorang perampok dan berbahaya. Diakui Suratman “Dia itu seorang luar biasa, dia itu kritis, baik dan sangat berani. Sewaktu kuliah dia itu idola. Tidak jarang dia mendebat dosen secara kritis”, ungkap Suratman.

Namun kedatangan Dillah itulah yang akhirnya menjadi malapetaka buat Suratman. Dia dianggap melindungi seorang teroris. Tak lama setelah Dillah datang kerumahnya Suratman dipanggil ke Kodim dan diinterogasi. “Saat itu saya sedang disawah lagi nyangkul tanah, tau-taunya dipanggil oleh petugas untuk datang ke KODIM. Sayapun langsung datang ke KODIM. Saat itu saya lagi puasa. Setelah diinterogasi akhirnya saya dibawa ke Semarang pakai mobil Jep”, akui Suratman.

“Saya diminta untuk bersaksi atas kedatangan teman saya Dillah ke rumah. Pertanyaan-pertanyaannya memang terkait posisi saya dimana. Saya akui apa adanya. Mungkin karena saya jujur itulah saya selamat, alhamdulilah tidak masuk penjara”, ungkapnya. “Wong Dillah teman saya mas, saya mentololah kalau mengusir dia. Tidak mungkin saya mengusir dia. Apalagi orangnya tidak ada yang perlu ditakuti sama sekali”, tambahnya.

Pengakuan Suratman mungkin dialami banyak orang di negeri Indonesia kita ini. Mereka yang dituduh bersalah walaupun tanpa jelas status hukumnya haruslah dimusuhi. Mereka yang dikunjungi siap-siap diinterogasi bahkan dipenjarakan. Misalkan keluarga dan teman akibat tuduhan pelaku teroris. Yakinlah mereka tidak aman di negeri kita saat ini. Hubungan persaudaraan dan kemanusiaan seringkali terputus karena stigmatisasi Negara. Dillah dan Suratman adalah salah satunya. Stigma buruk dilekatkan pada dirinya tanpa ampun. Untung ada Suratman yang “mentolo”, seorang yang baik hati dan berbelas kasih. Dia tidak tega mengusir temannya Dillah walaupun dia tahu akibatnya pasti diinterogasi dan ditangkap aparat militer.

Komando Jihad sama dengan peristiwa Malari, Petrus, NKK/BKK, asas tunggal, anti gerakan kiri dan lainnya ialah merupakan salah satu rekayasa politik rezim orba. Peristiwa-peristiwa itu dihadirkan untuk menciptakan state terorisme sehingga masyarakat patuh dan takut pada negara. Negara juga telah menyebarkan isu-isu discourse yang bertujuan untuk menghancurkan kelompok kritis dengan melakukan penggiringan opini publik. Posisi Negara orde baru sebagaimana diakui banyak orang sangat tertib dan aman sebagai Negara privat, clientist, dan corporate.

Suratman ialah kesekian dari ribuan korban yang terungkap di Indonesia. Masih banyak korban yang lain yang ditangkapi tanpa adanya keadilan hukum. Mereka ditangkapi secara sewenang-wenang. Lewat konspirasi politik dan kepentingan elit yang haus kekuasaan, mereka yang baik akhirnya ditangkapi. Bahkan mereka yang tidak tahu menahu seringkali harus menanggung beban stigma negatif. Sebagaimana Suratman katakan “Setelah saya ditangkap dan berurusan dengan KODIM dan dibawa ke Semarang, sejak saat itu saya menjadi perbincangan masyarakat. Taulah mas, bagaimana kalau kita pernah dipanggil polisi dan berurusan dengan hukum pasti dianggap jelek oleh tetangga kita”, Keluh Suratman.

Tidak ada komentar: