Senin, 11 April 2011

Mari Kita Berorganisasi

... M. Syafi'ie

Pembelajaran tentang organisasi sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi kita. Karena sebenarnya diri manusia dalam menjalankan hidupnya sejak lahir, berkembang sampai mati disebabkan ada mikanisme organ-isasi. Terdapat mikanisme yang menggerakkan sistem hidup manusia. Rahasia keteraturan sistem diri manusia merupakan anugerah Allah yang maha agung. Betapa kita akan menderita ketika sistem akal tercerabut dari tubuh karena sama halnya kita menjadi gila, atau betapa berbahanya ketika sistem akal kita tidak nyambung dengan sistem hati yang mengantarkan kita menjadi pribadi yang otoritarian mirip Adolf Hitler yang tidak berperasaan.

Termasuk dari alam ini kita bisa belajar bagaimana mereka berorganisasi. Ada langit ada bumi, ada dingin dan ada panas, ada air dan ada api, ada siang dan ada malam, ada laki-laki juga ada perempuan, dan lainnya. Kesemuanya berpasangan dan bersatu dalam entitas yang berbeda. Perbedaan yang ada menjadi sumber keindahan dan keserasian yang saling mengisi. Kesemuanya tidak tunggal tapi majemuk yang saling melengkapi. Semuanya terorganisasi dalam kekuasaan Allah yang maha kuasa.
Melalui tubuh manusia dan alam Allah telah mengajarkan secara serius bagaimana hidup berorganisasi. Manusia tidak sendiri tetapi hidup dalam lingkungan sosial yang terstruktur. Hidup dalam Negara, hidup dalam satu perkumpulan, hidup bertetangga, hidup berkeluarga dan hidup bersosial. Semuanya ada seni dan ilmunya yang selanjutnya kita sebut sebagai pelajaran manajemen organisasi.

Dalam keilmuan modern definisi organisasi dipersempit hanya menjadi wilayah manusia. Manajemen diartikan sebagai proses pengorganisasian aktifitas kerja beberapa orang sehingga kerja bisa terseleselesaikan dengan baik dan efisien. Sedangkan organisasi diartikan sebagai sekelompok manusia yang bekerjasama dengan suatu perencanaan kerja dan peraturan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sehingga manajemen organisasi merupakan ilmu yang mengajarkan metode bergaul secara sosial yang struktural. Ada job diskripsi dan struktur organisasi yang membuat batas-batas kewenangan dan tanggungjawab pada struktur.

Terlepas dari batas-batas yang struktural tersebut, manajemen organisasi berkaitan dengan seni hidup bergaul secara sosial. Semakin seseorang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dalam berorganisasi maka capaian keberhasilan sebuah tujuan akan semakin besar. Hidup berorganisasi sebenarnya tidak hidup dalam ruang yang kaku, ada atasan dan bawahan, ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih kecil. Ukuran itu Cuma tinjauan struktur yang mati, lebih dari itu berorganisasi sesungguhnya berarti seseorang mempraktikkan hidup secara manusiawi. Target tertentu sebuah organisasi tidak akan berhasil tanpa ada ruhnya kemanusiaan yang beradab.

Posisi mendasar dalam manajemen organisasi ialah manusia-manusia didalamnya. Pemberlakuan terhadap mereka akan menentukan berhasil dan tidaknya sebuah tujuan bersama organisasi. Seringkali tujuan organisasi gagal karena manajemen manusia didalamnya yang gagal. Polemik dan pertentangan yang hadir dalam organisasi merupakan cikal bakal terjadinya kehancuran dari sebuah organisasi.

Organisasi yang terindikasi ada pertentangan dan polemik maka dibutuhkan penangananan yang serius sehingga permasalahan yang ada tidak berlarut-larut dan berakibat pada kegagalan tujuan bersama organisasi. Dalam konteks ini seorang organisatoris harus tanggap mencium berbagai gelagat yang menghinggapi manusia-manusia yang dalam organisasi. Tanpa itu, maka siap-siaplah menghadapi kegagalan-kegagalan dalam organisasi, dimanapun dan kapanpun.

Organisatoris harus menemukan “musuh bersama”

Salah satu kelemahan pemimpin dalam organisasi ialah ketidakmampuan dalam menemukan dan menentukan musuh bersama organisasi. Kelemahan ini biasanya akan berujung pada terjadinya konflik internal yang menjadi-jadi. Kalaupun tidak, organisasi biasanya bergerak lambat dan tidak menemukan jalan tujuannya. Seakan tidak punya ruh perjuangan, semangat yang lemah dan otot yang tidak kencang.

Karenanya seorang pemimpin organisasi haruslah mempunyai visi dan misi yang jelas arah dan tujuannya. Gerak jantrungnya kemana. Jika kerangka itu tidak dimiliki maka gerak organisasi akan kelimpungan ikut arus pasar, tidak jelas. Kerja-kerja yang dilaksanakan bergerak dalam posisi yang tidak sistematis dan pragmatis. Visi dan misi menjadi substansi dan esensi dalam sebuah kepemimpinan organisasi.

Maka seorang pemimpin organisasi minimal harus memegang prinsip-prinsip dasar dalam manajemen organisasi. Prinsip-prinsip dasar itu biasanya disingkan dengan POACE yaitu Planning, Organizing, Actuiting, Controlling dan Evaluating.

Pertama, sebelum organisasi digerakkan maka mendasar bagi organisasi untuk merencanakan program dan banyak hal terlebih dahulu. Pembacaan terhadap situasi dan kondisi menjadi perihal yang integral untuk merencanakan sebuah program. Perencanaan harus ditempatkan pada dua hal, pertama, pada konteks yang strategis dimana perencanaan disesuaikan dengan konteks yang berkembang. Kedua, perencanaan ditempatkan pada ideologi organisasi. Warna program yang kontekstual tidak akan berseberangan dengan nilai-nilai filosofis organisasi.

Kedua, setelah perencanaan yang bersifat strategis dan ideologis diselesaikan maka saatnya sudah mulai mengorganisasi berbagai komponen yang akan terlibat. Menyamakan persepsi, visi dan misi organisasi merupakan sesuatu yang vital bagi keberhasilan dan tercapainya tujuan organisasi. harapannya pribadi manusia yang ada dalam organisasi mampu menangkap nafas perjuangan dan bergerak bersama sebagaimana organ yang menyatu.

Ketiga, tahap aksi dan pelaksaan program sebuah organisasi. Disinilah tahap pembuktian berhasil tidaknya sebuah perencanaan dan pengorganisasian. Perencanaan yang ideologis tapi tidak kontekstual cenderung akan mengalami kegagalan. Perencanaan yang kontekstual tapi tidak ideologis cenderung akan menghancurkan bangunan organisasi. Termasuk kegagalan dalam pengorganisasian akan berakibat pada gagalnya sebuah aksi program. Pelaksanaan sebuah program organisasi sangat tergantung pada apa yang melatarinya. Jika jelek maka persentase kegagalannya akan sangat besar. Maka berhati-hatilah dalam penyusunan planning dan pengorganisasian.

Keempat, dalam pelaksanaan program sangat dimungkinkan terjadinya penyelewengan dari cita-cita awal. Seringkali program yang konteks cenderung pada pasar dan melepaskan sama sekali dari garis-garis ideologi organisasi. Sehingga dalam hal ini butuh pengawasan sejauhmana pelaksanaan program berjalan sesuai dengan ide dan cita-cita awal organisasi.

Kelima, dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan terakhir dibutuhkan pengujian ulang. Mengukur keberhasilan sebuah program sesuai dengan idealita dan realita yang ada. Pengujian sebuah program penting untuk bahan penyusunan dan pelaksanaan program selanjutnya. Keberhasilan sebuah organisasi sehingga menjadi besar tidak terlepas pengujian sistematik sebuah program. Perbaikan demi perbaikan dihasilkan dari proses pengujian yang terus menerus. Belajar atas kesalahan merupakan modal sukses tidaknya sebuah organisasi. Sebagaimana pepatah inggris bilang “Experience Is The Best Teacher!”

Tidak ada komentar: