Jumat, 08 April 2011

Ramadhan di Tawangmangu

... M. Syafi'ie

Gegap gempita Ramadhan terasa semarak sekali. Tidak seperti peristiwa biasa, umat Islam berduyun-duyun menyambutnya dengan histeria. Masjid-masjid dihias, di jalanan ada iringan karnaval, beduk ditabuh, bahkan tradisi seperti Padusan dihidupkan. Untuk menyambut Ramadhan, masyarakat Tawangmangu salah satunya ramai, mereka padus, mandi bareng-bareng, laki-laki dan perempuan. Entah peristiwa ini akibat karena Indonesia yang begitu suntuk, ataukah karena doktrin agama yang menguap.

Peristiwa Ramadhan kali ini yang jelas begitu istimewa, termasuk bagi ustad Yusuf , ustad Nurhadi dan ustad Mufid, mereka adalah para pembina Forum Komunikasi Keluarga Darul (FKKD), Tawangmangu. Saat ditemui, terpancar wajah-wajah berseri mereka, semangat dan tekad yang terasa begitu kuat. Ketika melontarkan pendapat terlihat kesungguhan yang begitu dalam. Mereka adalah para aktifis dakwah, makanya mereka kritis terhadap tradisi yang menurut mereka bertentangan dengan syariah Islam. Salah satunya tradisi padusan. “Acara itu diadakan sehari sebelum Ramadhan, itu sudah menjadi ritual disebagian kalangan padahal itu bid’ah, tetapi kalau kita kaji lebih dalam, padusan itu artinya mandi secara bersama-sama disungai, ditempat terbuka baik laki-laki maupun perempuan yang bukan muhrimnya dengan alasan untuk membersihkan dosa-dosa dalam setahun. Apalagi sampai ada keyakinan di masyarakat, kalau padusan tidak dilaksanakan sepertinya mereka merasa berdosa. Inikan tidak benar”, ungkap ustad Yusuf.
Tetapi bagi mereka bulan Ramadhan tetap bulan yang berkah. Bulan ini bagi mereka begitu berharga untuk penempaan ruh keislaman dan keimanan. “Kita sudah menyiapkan berbagai agenda mas, salah satunya kajian fiqh Ramadhan. Kita sudah menyiapkan agenda pengajian, silaturahmi, baca Al-Qur’an dan I’tikaf. Teman-teman FKKD juga telah melakukan survey di beberapa masjid untuk mengedentifikasi orang-orang inti di masjid-masjid itu. Kita latih mereka dan kita siapkan mereka agenda-agenda yang bagus. Sekarang sudah ada sekitar 19 masjid yang sudah ada kelompok kecilnya, ini efektif untuk pembinaan ruhiyah masyarakat”, tambah ustad Yusuf.

Bagi mereka bulan Ramadhan ini adalah bulan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Antara anggota FKKD sudah ditanamkan prinsip bahwa bulan Ramadhan ini harus total, tidak boleh disia-siakan. Bagi mereka, mungkin bulan Ramadhan ini adalah bulan terakhir, mereka menyadarai semua bahwa kedepan mungkin meninggal atau malah sesama mereka akan berpisah pergi keluar kota. “Kita tidak bisa menebak masa depan, kita harus menyiapkan amal sebaik-baiknya di bulan ini”, ungkap ustad Nurhadi.

Membangun Gerakan Dengan Aqidah

Hebatnya mereka bukanlah satu kelompok yang bercerai-berai. FKKD adalah satu gerakan keagamaan yang begitu kuat di daerah Tawangmangu. Mereka diikat dalam satu keluarga besar yang mereka sebut sebagai keluarga Darul. Ikatan diantara mereka bukan mendasarkan pada fisik, harta dan duniawi. Keluarga Darul diikat oleh satu aqidah yang sama, yaitu Islam. Ikatan yang bagi pikiran rata-rata orang sangat abstrak tapi transeden.

Namun bagi mereka, ikatan aqidah malah menjadi basis gerakan yang paling tinggi, tidak ada yang lain. Kata mereka ”hubungan sedarah masih bisa luntur tapi hubungan yang aqidah tidak akan pernah luntur”, itulah yang kemudian menjadi pegangan hidup mereka ketika di FKKD. Ribuan massa sudah bisa mereka pegang. Ketika ada pengajian mereka cukup mengkontak orang-orang kuncinya. ”Massa yang diinginkan datang pasti terpenuhi. Kita sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat di Tawangmangu ini”, ungkap ustad Yusuf semangat. Tapi banyaknya massa yang ideologis seperti ini seringkali menjadi cobaan tersendiri bagi tokoh-tokoh kunci FKKD, tekanan bahkan sogokan-sogokan pernah mereka hadapi.

”Saya masih ingat mas, kita pernah ada anggota yang ditekan oleh penduduk kampung. Dia punya digdaya tapi kita tantang dia, sampai akhirnya dia ketakutan sendiri. Kita juga pernah diawasi aparat gara-gara tidak mau nyoblos pemilu kemarin. Kiranya kita teroris, mereka keterlaluan sama kita” ungkap ustad Yusuf. ”Hebatnya saya pernah mau disogok, cukup besar dananya, biar saya mendukung dan mencoblos salah seorang calon legislatif, tapi saya tolak penyuapan itu. Mungkin yang lain dapat cobaan yang seperti saya juga”, tambahnya keras.

Kukuhnya sikap dan pendirian ustad Yusuf dan teman-temannya bukanlah hal biasa. Mereka didasari apa yang mereka pegang yaitu aqidah. Mereka bersekutu dalam hal dakwah tapi mereka akan menolak jika perbuatan tersebut bertentangan dengan Islam. Bagi mereka beragama Islam itu harus punya tujuan yang jelas, tidak boleh pasif dan bergerak secara tradisional. Tidak sekedar tahlilan, sholat, puasa dan ritual lainnya.

”Kita dari keluarga Darul, punya keyakinan bahwa hidup dan beragama harus punya tujuan yang jelas, kita beda dengan gerakan-gerakan Islam umumnya yang seakan tidak tidak punya arah kemana, kita dalam Islam harus punya target-target makanya ada jihad. Rugilah kita kalau Cuma tahlilan, sholat dan melaksanakan ritual lainnya, lalu kita tidur. Ritual itu harus dihidupkan secara progresif di lingkungan sosial masyarakat, kita tidak boleh stagnan.”, ungkap ustad Yusuf berapi-api.

Ungkapan yang sangat kritis dan menggugah. Islam bagi mereka ialah pendesakan perubahan sosial, tidak pasif dalam sosial masyarakat dan negaranya. Umat Islam harus terlibat, menggunakan konsep-konsep jihadnya dalam membangun masa depan masyarakat yang diridhai Allah SWT. ”Itulah yang membedakan FKKD dengan gerakan Islam yang lain, perbedaannya terletak pada metode dan sistem berdakwah, dalam meyampaikan ajaran-ajaran Islam misalnya banyak kita lihat ustad-ustad dari kelompok yang lain hanya sekedar menyampaikan ilmu dipengajian-pengajian, baik itu sebulan sekali atau seminggu sekali tetapi tidak ada pembentukkan sebuah karekter. Hanya sekedar menyampaikan ajaran-ajaran Islam dan setelah itu keluar dari acara pengajian. Anggota lepas begitu saja dan hanya sekedar budaya yang sifatnya rutinitas dan ikut-ikutan. Kita tidak ada yang kayak begitu. Apalagi sekedar menjadi ustad yang mencari amplop dan popularitas!”, tegas Nurhadi.

Gelisah akan Sistem yang terpuruk
Keterpurukan sistem negara yang begitu parah, mulai pejabatnya yang doyan korupsi, hobi memperkaya diri sampai pada budaya masyarakat yang sudah hedonistik. Kalau negaranya rusak maka masyarakatnya juga akan mengalami kerusakan. Prilaku negara yang kacau menjadi cermin dari budaya masyarakatnya yang juga akan kacau, itulah kira-kira tesis Hannah Arendt.

Indonesia, bagi ustad Yusuf dan kawan-kawannya juga begitu. Prilaku pejabat lebih suka yang berbau hura-hura. ”Kita miris ketika melihat tayangan televisi, isinya cuma goyang Inul, musik-musik hedonis dan lawak terus menerus. Termasuk pejabat-pejabat di Tawangmangu ini juga, kalau kita mau melangsungkan pengajian kita sangat dipersulit peridzinannya bahkan diawasi sangat ketat, tapi kalau dangdutan dan yang berbau hura-hura, dipermudah malah yang tampil juga pejabatnya, ini parah sekali”, kritik ustad Yusuf.

”Inilah tanda-tanda akhir zaman, dimana kebenaran selalu terkucilkan. Umat yang berdakwah, penyeru kebaikan dan penentang kemungkaran terus menerus menjadi korban. Pemerintah susah dikasih tau. Bahkan parahnya umat Islam saat ini, tugas dakwahnya dipantau terus akibat tuduhan terorisme. Sedangkan kegiatan yang lain, yang itu merusak masyarakat malah dibiarkan. Tragisnya aparat negara malah menjadi bagian dari situ”.

”Kami sadar penangkapan-penangkapan terhadap umat Islam hari-hari ini pasti ada tujuan tersembunyi dibelakangnya. Kami dipaksa untuk mengikuti alur berfikir kelompok-kelompok kafir. Ironisnya, umat Islam saat ini terpecah luar biasa banyak. Diatara kelompok-kelompok Islam itu, mengklaim kebenaran kelompoknya masing-masing. Jika ada korban yang dibela Cuma dari kelompoknya saja. Umat Islam sudah tidak saling merangkul antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Tapi di tengah kondisi itu kami optimis, kebenaran pasti akan datang walaupun kelompok kafir saat ini terlihat sangat terorganisasi untuk menghancurkan Islam”, ungkap ustad Yusuf.

Ditengah kondisi negara yang sudah carut marut, keoptimisan akan datangnya kemenangan kebenaran seakan menggema di hati sanubari ustad Yusuf, ustad Nurhadi dan ustad Mufid. Rasa itu, begitu tergambar dari wajah mereka yang sumbringah, tawadhu’ dan terlihat berani. Persaudaraan diantara mereka begitu kuat. Semoga semangat itu terus hadir dalam gerakan mereka dan Islam, seperti ruh Ramadhan yang begitu hebat tahun ini.

Tidak ada komentar: