Senin, 11 April 2011

Sosialisme Islam Cokroaminoto

... M. Syafi'ie

Pasca kemerdekaan Indonesia, mungkin tidak banyak orang yang kembali menengok kebelakang membaca kembali sosok-sosok inspiratif yang menggerakkan perlawanan terhadap kolonialisme Hindia Belanda. Pandangan dan sikap politik mereka patut diobyektifikasi untuk membangkitkan pergerakan nasional kekinian yang kehilangan arah perjuangan.

Tokoh itu adalah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Lahir di Bakur, sebuah desa di Madiun pada tanggal 16 Agustus 1887. Tjokroaminoto adalah lulusan Opleiding School voor Inlandsche Ambenaren (OSVIA) Magelang. Tjokroaminoto masih keturunan bangsawan yang bergelar Raden Mas. Walaupun dirinya tidak pernah memakai embel-embel gelar kebangsawanannya dalam ruang sosialnya.
Tjokroaminoto merupakan salah seorang pendiri dan ketua organisasi Sarekat Islam. Dirinya dikukuhkan menjadi ketua Sarekat Islam ketika kongres ke-II di Yogyakarta pada tahun 1914, menggantikan Haji Samanhudi. Di tangan Tjokroaminoto SI menjelma menjadi organisasi politik pertama yang terbesar di Nusantara. Tahun 1914 anggotanya tercatat 400.000, tahun 1916 terhitung 860.000 dan tahun 1919 kaanggotaan di SI mencapai 2.500.000.

Ketertarikan rakyat bergabung dengan organisasi Sarekat Islam disebabkan kejelian Tjokroaminoto melihat semua peluang yang ada. Label gerakan Islam dan meniadakan kastaisme dalam organisasi menjadi magnet tersendiri. Setiap pertemuan dalam SI, semua duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Apalagi kepemimpinan Tjokroaminoto mampu mengumpulkan tokoh-tokoh yang disegani masyarakat. Ada KH Ahmad Dahlan, Agus Salim, AM Sangadji, Mohammad Roem, Fachruddin, Abdul Moeis, dan tokoh-tokoh lainnya.

Ketika suatu cabang Sarekat Islam terbentuk. Tokoh SI pasti diundang untuk memberikan pidatonya. Salah seorang yang paling ditunggu-tunggu memberikan pidatonya adalah Tjokroaminoto. Tjokro mampunyai kekuatan yang mampu memompa semangat anggota SI dan masyarakat untuk bersatu melawan tirani kolonolialisme. Masyakarakat betul-betul menikmati pemimpin mereka yang lantang bersuara atas ketidakadilan. Mereka berdiri dengan gagah dan kharismatik.

Tjokroaminoto terkenal sebagai sosok yang kritis dan berani. Di Sarekat Islam Tjokroaminoto sangat antipati terhadap semua bentuk penindasan dan ketidakadilan. Dirinya sangat benci terhadap sistem kapitalisme yang dikembangkan penjajah Belanda. Perkataan dan tindakannya konsisten menyuarakan ketidakadilan baik sebagai tokoh pergerakan, seniman ataupun orang biasa. Tjokroaminoto tercatat terdepan memimpin aksi menyuarakan terhadap nasib buruh dan membuka pengaduan nasib rakyat di rumah dan dikantornya. Tulisan-tulisannya di media pergerakan dan pidato-pidatonya terus melantangkan suara pembelaan terhadap kaum kromo yang tertindas.

Sebagai tokoh pergerakan Islam Tjokroaminoto mengetuai dibentuknya komite Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TNKM) untuk menjaga kehormatan Islam. Termasuk melalui organisasi ini Tjokroaminoto mendorong lahirnya rasa kebangsaan Indonesia dengan memperkencang gagasan-gagasan pemerintahan sendiri (Zelfbestuur).

Rakyat yang merdeka adalah ungkapan yang memantul dari setiap gerak Tjokroaminoto. Baginya penjajah Belanda telah mengakibatkan masyarakat nusantara hidup menderita dan penuh kesengsaraan. Perbudakan dan kebodohan adalah sistem yang dipelihara oleh Kolonial Belanda. Untuk membangkitkan semangat perlawanan dan bersatu dalam nasionalisme Tjokroaminoto menolak mengakui nama Hindia Belanda yang diberikan Belanda untuk Nusantara. Dirinya pantang menyebut pemberian kolonial penjajah. Sebagai bangsa timur yang harus bangkit melawan dirinya menyebut nusantara sebagai Hindia Timur atau Hindia.

Inspirasi Pergerakan Indonesia

Tjokroaminoto bisa kita katakan juga sebagai tokoh yang menginspirasi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Betapa tidak? Tjokroaminoto mampu memunculkan kader-kader yang militan dan revolusioner. Sama persis dengan dirinya yang pemberani dan tidak diam ketika melihat penindasan. Tokoh-tokoh besar Soekarno, Musso, Alimin, Semaun, Kartosowiryo, Buya Hamka, HA Agus Salim, Abiekusno, KH. Mansyur, Sukiman, Herman Hartowisastro dan beberapa lainnya, semua mereka adalah murid-murid dan binaan Tjokroaminoto.

Soekarno menjadi tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI), Abikusno Tjokrosujoso menjadi tokoh Partai Syarikat Islam Indonesia (PSSI), Semaun, Alimin dan Musso menjadi tokoh komunis dan memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI), KH. Mas Mansyur menjadi tokoh Muhammadiyah dan bersama dokter Sukiman mendirikan Partai Islam Indonesia (PSI) yang berasaskan kebangsaan, sedangkan Kartosuwiryo menjadi pimpinan PSII di masa penjajahan, memimpin pemberontakan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di masa kemerdekaan, anggota pengurus besar Masjumi dan pendiri Negara Islam Indonesia (NII) pada 1 Agustus 1949.

Kelahiran tokoh-tokoh yang mempunyai militansi tinggi di atas tidak terlepas dari buah pikiran dan keteguhan Tjokroaminoto. Mereka dididik secara keras dan kuat untuk menjadi lokomotif perjuangan kemerdekaan Indonesia. Melawan Kolonial untuk membebaskan rakyat dari tirani yang sudah mendera sekian abad. Mereka direkayasa untuk bersatu padu menjadi memimpin masyarakat melawan terhadap kekuasaan Kolonial Belanda.

Sebagaimana diceritakan Soekarno dalam wawancaranya dengan Cindy Adam yang kemudian dibukukan dalam Soekano Penyambung Lidah Rakyat, dimana saat Soekarno berguru kepada Tjokroaminoto, dirinya duduk di dekat kaki Tjokro, mendengarkan intonasi perkataannya dan gerak tangannya, dan itu yang kemudian dijadikan cermin oleh Soekarno dalam gaya pidatonya selama menjadi tokoh PNI hingga menjadi Presiden. Bahkan kelahiran PNI tidak terlepas dari pikiran gurunya. Tjokroaminoto mengatakan kalau Sarekat Islam berasaskan Islam maka perlu ada partai yang berasaskan kebangsaan. Keduanya, Islam Nasionalis dan Nasionalis Islam, bisa bergandeng tangan sama-sama menentang penjajahan Belanda.

Kehadiran tokoh-tokoh berpengaruh dalam pentas kemerdekaan Indonesia di atas menegaskan bahwa sosok Tjokroaminoto adalah seorang yang pluralis dan humanis. Murid-muridnya yang kita lihat saat ini terbelah secara ideologis menjadi Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme merupakan pertanda betapa istimewanya sosok Tjokroaminoto. Ia mampu memposisikan pikiran-pikiran muridnya yang seakan terserak tanpa berbunuh-bunuhan. Mereka dipadukan dalam satu semangat pemihakan sosial yang total. Keyakinan keberagamaan yang membebaskan. Lewat pikirannya yang Ia sebut sebagai Sosialisme Islam. Sangat wajar Soekarno mengatakan ketika dirinya dipercaya memimpin kemerdekaan Ripublik Indonesia : “Andaikata Tjokroaminoto masih hidup, tentulah bukan saya yang menjadi Presiden, melainkan dia. Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia…”

Sosialisme Islam Tjokroaminoto

Di zamannya Tjokroaminoto pernah digelarkan sebagai ratu adil yang telah turun ke bumi. Tetapi Tjokroaminoto menolak terhadap gelar berlebihan itu. Menurutnya, ratu adil itu bukanlah sosok manusia, melainkan suatu ide sosialisme yang diilhami oleh semangat ajaran Islam.

Sosialisme Islam menurut Tjokro adalah sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme yang lain, melainkan sosialime yang berdasar kepada azaz-azaz Islam belaka. Baginya, cita-cita sosialisme dalam Islam tidak kurang dari 13 abad umurnya dan tidak ada hubungannya dengan pengaruh bangsa eropa. Azaz-azaz sosialisme Islam telah dikenal dalam pergaulan hidup Islam pada zaman nabi Muhammad SAW.

Islam secara tegas mengharamkan riba (woeker) dan itu artinya Islam menentang keras terhadap kapitalisme. Sebagaimana ditulis Tjokroaminoto dalam bukunya Islam dan Sosialisme, “Menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan pekerjaan lain orang, tidak memberikan bahagian keuntungan yang semestinya (dengan seharusnya) kebahagiannya lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan itu,- semua perbuatan yang serupa ini (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan “meerwaarde” (nilai lebih) adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam”.

Islam menentang kapitalisme juga terlihat bagaimana konsep muamalah Islam diberlakukan. Ajaran Islam mengajarkan bahwa akan celaka orang yang mengumpulkan harta untuk kesia-siaan. Dalam muamalah Islam kata Tjokro, praktek yang mengarah pada penimbunan dan penumpukan modal dan barang adalah dilarang. Termasuk Islam melarang keras praktek riba karena dianggap benih kapitalisme yang menurut pendapat Karl Marx disebut sebagai meerwarde.

Bagi Tjokroaminoto, dasar sosialisme Islam adalah ajaran Nabi Muhammad tentang kemajuan budi pekerti rakyat. Sehingga Tjokro membagi anasir sosialisme Islam pada tiga anasir, pertama, kemerdekaan (vrijheid-liberty). Kedua, persamaan (gelijk-heid-eguality), dan ketiga, persaudaraan (broederschap-fraternity).

Nilai sosialisme Islam terlihat dari misi yang disandang Nabi Muhammad bahwa Ia datang untuk rahmat bagi seluruh alam. Jadi sejatinya orang Islam dimanapun berada selalu menebarkan cinta kasih dalam niat dan perbuatannya, menyebarkan rasa kemanusiaan yang tinggi, menjunjung nilai-nilai luhur, bukan hanya pada ideologi atau agamanya saja tapi kemanusiaannya juga. Bukan hanya pada manusia saja tapi pada makhluk lainnya juga. Sehingga tidak ada lagi perusakan baik di daratan maupun lautan, tidak ada lagi eksploitasi terhadap binatang, tumbuhan dan alam lainnya.

Dalam pemikiran Tjokro, keistimewaan sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad bukan semata karena nilai wahyu yang membimbing Rosulullah. Tetapi karena Nabi Muhammad selalu menjadi orang pertama yang memperjuangkan liberalisasi dan menegakkan keadilan. Nabi Muhammad bukan hanya seorang pemikir saja tetapi juga aktor yang terjun langsung ke masyarakat.

Umat Islam harus menjadikan Nabi Muhammad sebagai madzhab dalam tatanan sosial. Bagi Tjokro, umat Islam harus mengambil pelajaran dari tindakan Nabi Muhammad yang sangat menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan sangat menentang perbudakan. Nabi mengatakan “Tentang Budak-budakmu berilah makan padanya seperti yang kamu makan sendiri, dan berilah pakaian padanya seperti pakaian yang kamu sendiri. Apabila kamu tidak dapat memelihara mereka, atau mereka melakukan kesalahan, lepaskanlah mereka. Mereka itu hamba Allah seperti kamu juga, dan kamu harus berlaku baik-baik kepada mereka”.

Dalam bukunya Islam dan Sosialisme Tjokro juga menceritakan tamsil sosialisme Islam yang diajarkan Nabi Muhammad. Ia mengisahkan bahwa Nabi Muhammad mempunyai satu kebun bernama Fidak. Setelah Nabi wafat, Fatimah puteri Nabi menuntut pengembalian kebun itu kepadanya atas nama hak keturunan. Tetapi khalifah Abu Bakar menolak tuntutan Fatimah, dengan alasan bahwa Nabi Muhammad tidak mempunyai kekayaan dengan hak bagi dirinya sendiri. Kerena itu segala yang ditinggalkan Nabi Muhammad harus menjadi kepunyaan orang banyak.

Azaz penting menurut Tjokro mengapa Nabi Muhammad gigih memperjuangkan Sosialisme Islam karena Islam mengajarkan sebesar-besarnya keselamatan hendaknya menjadi bahagiannya sebanyak-banyaknya manusia, dan keperluannya seseorang hendaknya bertakluk kepada keperluannya orang banyak. Termasuk pencapaian rahmatan lil alamien yang menjadi misi kerosulan Nabi Muhammad adalah ingin meletakkan semangat keadilan dan kemanusiaan yang meniscayakan hadirnya sistem yang mensejahterakan.

Maka kalau ditelaah lebih jauh pemikiran diatas bahwa sebenarnya semangat perjuangan Tjokroaminoto adalah ingin meletakkan Islam sebagai unsur fundamental untuk membebaskan rakyat dari kesewenang-wenangan rezim Kolonial Belanda. Sosialisme Islam baginya adalah ruh pembebasan manusia dari pemiskinan yang digerakkan oleh sistem. Perlawanan terhadap sistem yang tidak berkeadilan beliau letakkan sebagai misi kenabian sebagaimana ajaran Nabi Muhammad.

Tjokro pada akhirnya mampu melahirkan khalifah dan aktor-aktor revolusioner yang berperan besar terhadap kemerdekaan Indonesia. Ada Soekarno, Semaun, Muso, Alimin, Kartosuwiryo, Agus Salim, Buya Hamka dan lainya. Dengan kekuatan masing-masing mereka berjuang membebaskan penderitaan rakyat. Melalui perang, diplomatik dan gerakan massa. Sampai titik penghabisan mereka berjuang untuk mengusir Kolonial Belanda. Dengan kekuatan masing-masing mereka berhasil mendorong kemerdekaan Indonesia.

Walaupun pada akhirnya masyarakat yang Tjokroaminoto perjuangkan untuk terbebaskan dari kolonialisme harus dikotori oleh murid-muridnya yang terbelah dan saling berlawanan. Saling menjatuhkan dan menghancurkan dengan kekuatan dan kekuasaannya masing-masing. Bahkan pertarungan itu masih berlangsung sampai “cicit-cicitnya” detik ini. Saling mengklaim kebenaran ditengah semakin mengguritanya neo kolonialisme kekinian. Entah apa gundah Tjokro di alam barzah saat ini?

Tidak ada komentar: