Senin, 11 April 2011

Telaah HAM dalam Islam

... M. Syafi' ie

Pendahuluan
Pasca dikumandangkannya The Universal Declaration of Human Rights (UDHR) pada 10 Desember 1948 yang diikuti oleh negara-negara di dunia, ternyata berpengaruh besar terhadap diskursus tentang Islam dan HAM terutama di negara-negara yang berpenduduk muslim walauupun sebagian besar mereka terlibat. Bagi negara-negara yang berpenduduk muslim,  material yang ada dalam pasal-pasal UDHR yang berjumlah 30 pasal tidak semuanya dapat dibenarkan. terutama pasal, 16 ayat 1 tentang perkawinan yang tidak harus dibatasi oleh agama, dan pasal 18 yang dianggap bertentangan dengan prinsip akidah Islam yaitu kebolehan berpindah agama (murtad).
Reaksi ketidaksepakatan itulah yang kemudian mendorong negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk mengadakan Cairo Declaration (CD) pada 5 Agustus 1990. Deklarasi ini memang tidak merombak total terhadap rumusan UDHR tetapi sifatnya sekedar mengoreksi dan manambah disana-sini. Rumusan-rumusan UDHR yang dianggap tidak bertentangan dengan prinsip Islam dikasih penjelasan sebagaimana Al-Qur’an dan Al-Hadist. Sedangkan rumusan UDHR yang dianggap bertentangan dengan Islam dihilangkan.[1] Deklarasi Kairo ini kemudian lebih dikenal dengan deklarasi HAM dalam Islam walaupun masih menimbulkan perdebatan di internal umat Islam sendiri.
Sebagaimana Supriyanto Abdi katakan, [2]  terdapat tiga (3) friksi kekuatan melihat relasi antara Islam dan HAM, pertama,  Islam tidak sesuai dengan gagasan dan konsepsi HAM modern. Pandangan ini berangkat dari asas esensialisme dan relativisme kultural. Esensialisme menunjukkan kepada paham yang menegaskan bahwa suatu gagasan atau konsep pada dasarnya mengakar atau bersumber pada satu sistem nilai, tradisi, atau peradaban tertentu. Sedangkan relativisme kultural adalah paham yang berkeyakinan bahwa satu gagasan yang lahir atau terkait dengan sistem nilai tertentu tidak bisa berlaku atau tidak bisa diterapkan dalam masyarakat dengan sistem nilai yang berbeda. Di kalangan pemikir Barat termasuk di dalamnya Samuel P.Huntington serta Pollis dan Schwab. Menurut keduanya, karena secara historis HAM lahir di Eropa dan Barat, HAM pada dasarnya terkait dan terbatas pada konsep-konsep kultural.
Kedua, Islam menerima semangat kemanusiaan HAM modern, tetapi, pada saat yang sama menolak landasan sekulernya dan menggantinya dengan landasan Islam. Pandangan kedua ini lebih dikenal dengan gerakan Islamisasi HAM. Pandangan ini muncul sebagai reaksi kegagalan rumusan HAM UDHR yang tidak mengakomodasi kepentingan terbesar masyarakat Muslim.[3]
Ketiga, menegaskan bahwa HAM modern adalah khazanah kemanusiaan universal dan Islam (bisa dan seharusnya) memberikan landasan normatif yang sangat kuat terhadapnya. Berbeda dengan dua pandangan sebelumnya, varian ketiga ini menegaskan bahwa universalitas HAM sebagai khazanah kemanusiaan yang landasan normatif dan filosofisnya bisa dilacak dan dijumpai dalam berbagai sistem nilai dan tradisi agama, termasuk Islam di dalamnya. Pandangan seperti ini antara lain dikemukakan oleh Abdullah Ahmed an-Naim. Menurut An-Naim Islam itu sangat holistif dan komprehensif dalam konteks menghargai HAM.
Pemikiran antara Islam dan HAM di atas dengan variannya yang berbeda-beda tetapi varian itu tidak menghilangkan substansi ajaran dan nilai bahwa Islam sangat mengakui dan menjunjung tinggi terhadap Islam. Islam telah membumikan ajaran-ajarannya tentang pembebasan, keadilan, dan kemanusiaan lewat para nabinya. Mulai nabi Adam yang hidup pada 300. 000 SM, Nabi Nuh yang hidup sekitar tahun 11.000 SM, Nabi Ibrahim sekitar tahun 1.800 SM, sampai nabi terakhir Muhammad SAW yang hidup pada tahun 570 M.[4]  Syiar para nabi yang diakhiri nabi Muhammad  telah mengukuhkan bahwa Islam tidak sama sekali memusuhi terhadap hak asasi manusia.
Sebagai nabi terakhir, nabi Muhammad telah mengajarkan bagaimana HAM itu harus dibangun dan dibumikan. Betapa banyak ajaran (hadist) dan kisah perjalanan Nabi (sunnah) yang bisa diambil hikmah. Bahkan, ketika awal-awal memimpin beliau menegaskan bahwa dirinya diutus oleh Allah ke muka bumi ialah semata-mata untuk memperbaiki prilaku umat manusia. Dari umat manusia yang tidak beretika menjadi beretika. Dari umat manusia jahiliyyah menuju umat yang tercerahkan. Dari umat yang mencintai perbudakan menjadi umat manusia yang mencintai persamaan, keadilan dan kemanusiaan. Cita-cita besar itu diwujudkan dalam keseharian nabi sebagai seorang pemimpin umat Islam, termasuk ketika beliau menjadi pemimpin negara di kota Madinah.
Cukup banyak momentum yang diajarkan nabi bagaimana hak asasi manusia itu harus dijunjung tinggi, dihormati dan menjadi tanggungjawab bersama. Piagam madinah, khutbah haji wada’, khutbah fathu mekkah, dan masih banyak peristiwa lainnya yang menggambarkan bagaimana Islam bermisi kemanusiaan. Ajaran ketauhidan (teosentris) dalam Islam bukannya untuk menghilangkan ajaran kedirian manusia (antroposentrisme) tetapi seperti yang diungkap oleh almarhum Kuntowijoyo, ketauhidan (transedensi) itu sebenarnya adalah muara bagaimana humanisasi dan liberasi itu dibangun di muka bumi.

HAM DALAM ISLAM
Narasi dari pemikiran di atas menegaskan  bahwa sudah tidak ada keranguan bahwa Islam bertentangan dengan HAM. Berikut beberapa hak asasi manusia yang diajarkan dalam Islam, dimana setiap manusia wajib menghormati dan menjaganya, sedangkan negara sebagai pemangku pemegang otoritas wajib menjaga, menjunjung tinggi dan memenuhinya. Hak-hak asasi ini bahkan merupakan turunan tujuan dan asas dari pembentukan suatu hukum yang ada dalam Islam (maqasidus syari’ah). Hak-hak itu meliputi ;

1.      Hak Hidup
Hak hidup merupakan hak mendasar dalam Islam. Setiap orang dan terutama pemegang kebijakan tidak diperbolehkan mengambil nyawa seseorang. Hak hidup merupakan hak fundamental bagi setiap orang, baik itu berasal dari umat Islam ataupun dari orang non muslim. Setiap manusia mempunyai hak hidup yang sama karena  hidup ialah pemberian dari Allah dan hanya Allah yang berhak untuk mencabutnya. Berikut ialah landasan-landasan yang ada dalam Al-Qur’an, Al-Hadist dan dan Sunnah nabi, yaitu ;

“Dan sesungguhnya benar-benar kami yang menghidupkan dan mematikan… (Qs. Al-Hijr : 23)

“ …..barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh  orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara  kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” (Qs. Al-Maidah : 32)

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh dibunuh secara zalim maka sesungguhnya Kami telah memberi  kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampai batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan” (Al-Isra’ : 33)

“….. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar… (Qs. Al-An’Am : 151)

Teks Al-Qur’an di atas sangat tegas, betapa ajaran Islam sangat menghargai terhadap hak hidup setiap manusia. Tidak ada satupun yang berhak untuk mengambil nyawa seseorang, hanya Allah yang mempu nyai kekuasaan mencabut nyawa seseorang.  Allah yang menghidupkan dan mematikan seseorang.  Jiwa seseorang adalah suci, tidak boleh disakiti dan segala usaha dan upaya harus dilakukan untuk melindunginya. Tidak diperkenankan seseorangpun menyakiti terhadap orang lain kecuali mendasarkan atas ketentuan hukum, seperti ketentuan qishas (Al-Baqarah : 78).
Mengapa hukum qishas diperbolehkan mengambil nyawa seseorang karena tujuan dasar dari qishas ialah semata ingin menyelamatkan masyarakat dan melindungi hak hidup setiap jiwa yang ada. Qishas sebagaimana Al-Qur’an nyatakan ialah semata ingin menjamin terhadap keberlangsungan hidup bagi manusia (Qs. Al-Baqarah : 179). Karena itu dalam Islam sampai diikrarkan bahwa melenyapkan hak hidup seseorang tanpa hak sama artinya melenyapkan semua manusia. Sebaliknya, menyelamatkan hidup seseorang berarti telah menyelamatkan kehidupan manusia seluruhnya.
Hamka dalam tafsir Al-Azharnya mengatakan bahwa membuat kerusakan dimuka bumi disamakan dengan membunuh manusia, karena perbuatan itu merupakan ancaman untuk kelangsungan hidup manusia. Berbuat kerusakan itu ialah “mengancam keamanan, menyamun, dan merampok, memberontak kepada imam yang adil, mendirikan gerombolan mengacau, merampas harta benda orang, membakar rumah dan sebagainya. Termasuk didalamnya ialah seseorang pembunuh dan perusak ketertiban umum dan keamanan. Tindakan itu sama dengan membunuh semua manusia. Tindakan itu menyebabkan seseorang tidak merasa aman dan tidak merasa terjamin lagi hak hidupnya, lalu lintas ekonomi dan hubungan daerah terputus sendirinya sebab merasa takut. [5]
Selain dalam teks Al-Qur’an di atas, kita banyak menemukan bagaimana nabi telah berkali-kali mengungkapkan bagaimana hak hidup itu harus dijaga dan dijunjung tinggi.  Imam Bukhori meriwayatkan dalam Kitabul Zimma bahwa nabi SAW bersabda : “Seseorang yang membunuh orang yang dibawah perjanjian (seorang warga negara non muslim dalam negara Islam) tidak akan merasakan surga walau hanya mencium wanginya”.  Imam Bukhori dan Muslim juga meriwayatkan dalam Kitabul Hajj bahwa nabi SAW ketika khutbah haji Wadha’ bersabda : “Hidupmu dan harta bendamu adalah haram bagi tiap-tiap orang terhadap yang lainnya sampai kamu bertemu dengan Tuhanmu pada hari kebangkitan”.  Agama Islam juga mengajarkan untuk menjaga  hak hidup siapapun, termasuk di dalamnya ialah hak hidup bayi yang ada dalam kandungan. Tindakan aborsi diharamkan dalam Islam kecuali dalam situasi dan kondisi yang sangat membahayakan (darurat), baik bagi orang tua bayi atau bayi yang ada dalam kandungan.
Hak hidup dalam perjalanan pemerintahan Islam, terutama masa khulafa’ rasyidin selalu dihormati dan dijunjung tinggi.  Salah satunya yang terkenal  ialah perjanjian pada penaklukan Azarbaijan pada masa  Sayyidina Umar  yang berisikan : hidup, harta benda, dan hukum agama-agama mereka semuanya dijamin aman.  Ketika penaklukan kota Jarussalem, sayyidina Umar juga membuat perjanjian dengan pemerintahan kota taklukan yang berisikan : perlindungan keamanan ini meliputi kehidupan, harta benda mereka, gereja-gereja, dan salib orang-orang sehat dan sakit dari mereka…..”[6].  Dan masih banyak lembaran sejarah Islam yang lain yang begitu mengharukan bagaimana hak hidup begitu dihormati.

2.      Hak Milik
Salah satu hak yang sangat dijamin dalam Islam ialah eksistensi hak milik. Kepemilikan terhadap harta  dan benda yang diperoleh secara sah menurut hukum menjadi salah satu syarat kehalalan dalam menggunakannya.  Tidak seorangpun diperbolehkan merampas hak milik seseorang, termasuk sekalipun adalah para penguasa.  Dalam ajaran Islam, tindakan seseorang dengan cara merampas, merampok dan ataupun menjarah hukuman bagi yang melakukannya sangatlah keras. Hukuman bagi mencuri saja dalam Islam ialah potong tangan. Mengapa potong tangan?, karena tindakan pencurian telah melanggar hak dan membuat orang lain merasa takut. Kalau itu dibiarkan dan tidak dihukum berat maka pelanggaran hak akan terus berlanjut.  Pemerintahanan sebagai pemangku kekuasaan harus menjamin bagaimana hak milik itu dijaga dan menghukum seberat-beratnya terhadap pelaku pelanggar hak milik. Berikut adalah ajaran yang ada dalam Al-Qur’an tentang hak milik, yaitu :

“Dan janganlah kamu memakan harta sebagian yang lain  di antara kamu dengan jalan yang batil …..” (Al-Baqarah : 188)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil ….” (Qs. An-Nisa’ : 29)

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa lagi maha bijaksana ” (Qs. Al-Maidah : 38)

Penghormatan Islam terhadap hak milik begitu jelas dalam doktrin-doktrin Islam. Cara-cara bathil (tidak benar) sangat dilarang dalam Islam. Apalagi tindakan mencuri, hukuman jelas yaitu potong tangan. Potong tangan ialah ialah hukum pidana yang ada dalam Islam, hukuman itu dilakukan semata-mata untuk menjerakan pelaku pencurian sehingga dia tidak melakukan kembali terhadap tindakannya. Di Indonesia pemberlakuan hukum potong tangan banyak kontroversi. Tapi pendapat yang digunakan ialah bahwa penjara sudah cukup untuk menjerakan para pelaku pencuri. Namun demikian, ada satu  Ijtihad Umar bin Khattab ketika beliau memimpin, hukum pencurian tidak selamanya potong tangan tapi bisa dihukum dengan yang lainnya, hukum potong tangan juga harus dilandasi dengan  pertimbangan-pertimbangan sosiologis dan kemanusiaan. [7]
Penghormatan terhadap hak milik tidah hanya berlaku untuk perseorangan tetapi juga berlaku bagi pemegang kekuasaan. Tanah biasanya menjadi hal yang krusial berkaitan dengan investasi dan pembukaan usaha-usaha baru. Sehingga tidak sedikit pemegang kebijakan melakukan diskriminasi berupa penggusuran, pemukulan dan pengusiran secara paksa. Padahal tidak sedikit dari masyarakat itu yang sudah mempunyai sertifikat hak milik. Sudah tinggal bertahun-tahun, beranak-pinak, tempat usaha dan lainnya.  Dalam ajaran Islam penggusuran, pemukulan apalagi pengusiran secara paksa oleh penguasa tidak dibenarkan sama sekali. Tindakan pengambilan tanah hanya dibenarkan dengan syarat  pengambilan itu disetujui  dan yang memiliki tanah diberikan konpensasi  yang adil.
Rasulullah SAW, mendapatkan tanah milik beberapa penduduk Madinah dalam rangka pembangunan masjid dan beliau telah membayar  uang penggantian kerugian kepada pemiliknya menurut harga yang berlaku meskipun mereka tidak menuntut  harga yang berapapun atas tanah miliknya.[8]  Demikian juga ketika perang Hunain, Rasulullah ditanya apakah topi-topi akan diambil tanpa kompensasi, Rasulullah menjawab  “semua topi-topi baja yang hilang selama pertempuran akan diganti.[9] Pada zaman khalifah Umar pernah terjadi seseorang petani syiria  mengadu bahwa pasukan muslim telah menginjak-injak  tanpa sengaja hasil pertaniannya. Kemudian khalifah Umar memerintahkan pasukannya  untuk membayar  sejumlah puluhan ribu dirham kepada orang tersebut dari kas negara sebagai konpensasi.[10]
Bahkan seseorang imam  madzhab terkenal  Abu Hanifah dalam ijtihadnya mengatakan : “pemerintah tidak boleh mengambil harta  dan tanah milik warga negaranya secara tidak sah menurut hukum”. Ketika masa kekhalifahan Umar dalam pembangunan  pusat masjid  di Kufah, pembangunan masjid itu masih menggunakan sisa  dari beberapa benteng  tua yang kebetulan terletak pada tanah orang –orang yang didzalimi, jumlah konpensasi yang dibayar negara disesuaikan dengan besar jizyah mereka.[11] doktrin dan Kisah –kisah kepemimpinan Islam di atas, sekali lagi menegaskan bahwa Islam sangat menghargai terhadap hak milik setiap manusia.
 
3.      Hak Perlindungan Kehormatan
Hak perlindungan kehormatan juga diatur dalam doktrin Islam. Ajaran Islam  sangat menghargai martabat dan kehormatan setiap manusia. Bahkan di internal Islam sendiri, Nabi Muhammad SAW telah mewanti-wanti ketika khutbah haji wada’ :  Kaum muslimin terikat untuk menjaga kehormatan orang lain. Seseorang yang mengganggu kehormatan orang lain dapat dihukum oleh pengadilan setelah terbukti ada kesalahannya. Termasuk suatu negara, dalam konteks ini khususnya negara Islam ialah harus melindungi kehormatan warganegaranya tanpa diskriminasi. Berikut  ajaran Al-Qur’an tentang hak atas perlindungan kehormatan;

“Hai orang –oran yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain … dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil sebagian kamu dengan gelar yang buruk…. “ (Qs. Al-Hujurat : 11)

“ …… Jauhilah kebanyakan dari prasangka…. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain …. (Qs. Al-Hujurat : 12)

Ketika kholifah Umar memimpin, beliau menemui para gubernur wilayah dan memberikan petunjuk kepada mereka  tentang perlindungan kehormatan warga negaranya.  Agama Islam tidak hanya memberikan kewajiban kepada negara untuk menjaga kehormatan warganya tetapi  negara juga harus memberikan pembelaan terhadap warga negara yang melakukan pembelaan untuk kehormatannya. Ada satu riwayat ketika masa Sayyidina Umar memimpin; ada seorang dari Bani Hazil dibunuh oleh seorang gadis karena seseorang itu menyerang kehormatan si  gadis. Sayyidina Umar menyatakan bahwa gadis itu tidak bersalah.[12]
Ketika masa kekhalifahan Umar juga diceritakan,  salah seorang gubernur Umair bin Sa’ad pada waktu itu berfikir bahwa seorang warga negara biasa tidak mempunyai persamaan dalam hal kesalehan, kesucian dan derajat keduniawian dibandingkan dengan para pejabat. Sehingga Umair pernah berkata kepada seorang dzimmi (warga negara non muslim) : “Semoga Allah membawamu ke dalam kehinaan”. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Umair merasa bersalah dan menyesali sehingga Umair langsung datang bertemu dengan khalifah Umar dan meletakkan jabatannya, seraya berkata “karena jabatan tinggi inilah kata-kata itu dapat meluncur dari mulutku”.[13]
Diceritakan juga, seorang pemimpin Syiria Jaballah bin Aiham Ghassani, seorang keturunan bangsawan dan telah masuk Islam. Pernah ketika dia melakukan thawaf di Ka’bah, ujung mantelnya  terinjak kaki seorang awam, lalu dia menampar muka orang itu, sampai orang awam itu pergi bertemu Sayyidina Umar. Setelah mendengar pengaduan itu, Umar berkata kepada Jaballah “kamu harus mendapatkan balasan dari dia atas apa yang kamu perbuat. Jaballah sang pemimpin Syiria kaget dan berkata “aku berasal dari keluarga yang begitu tinggi derajatnya, jika ada seseoran yang bertindak ceroboh terhadap kami  maka dia harus dihukum mati”. Sayyidina Umar menjawab “memang begitu pada zaman jahiliyyah, tapi sekarang Islam telah menyemaratakan semua derajat manusia”. Jaballah kemudian berkata “Jika Islam merupakan suatu sistem yang mempersamakan antara orang berdarah biru dengan rakyat jelata, maka aku menentangnya”. Akhirnya secara diam-diam Jaballah bin Aiham pergi secara diam-diam ke Konstantinopel  karena Umar tidak mengganti terhadap pendiriannya.[14] ajaran Islam dan kisah-kisah di atas semuanya menegaskan betapa Islam sangat menghormati hak atas kehormatan tanpa diskriminasi.

4.      Hak atas Keamanan dan Kesucian kehidupan Pribadi
Islam sangat mengakui hak atas rasa aman dan kesucian pribadi. Setiap orang punya hak hidup pribadi (privacy). Islam melarang umatnya untuk ikut campur  dalam urusan pribadi seseorang  secara tidak wajar. Nabi Muhammad dalam beberapa hadistnya menjelaskan perihal bahwa seseorang tidak boleh memasuki rumah tanpa pemberitahuan dan salam. Islam mengajarkan soal sopan santun, hak privat setiap orang, dan Nabi Muhammad SAW melarang mendatangi suatu rumah secara tiba-tiba dan mendadak. Etika memberitahu, janjian, dan mengetuk pintu dengan salam ialah satu dari sekian ajaran wajib Islam untuk menghormati hak atas rasa aman dan kesucian kehidupan pribadi. Berikut adalah ajaran Al-Qur’an tentang jaminan hak di atas;
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta idzin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat” (Qs. An-Nur : 27)

Islam juga mengajarkan bahwa mengintip ke dalam rumah seseorang sangatlah dilarang. Rasulullah dalam hadistnya menyebutkan bahwa jika seseorang mendapatkan ada orang lain mengintip secara diam-diam ke dalam rumah seseorang, maka orang itu boleh dicolok matanya dan tidak perlu ditanyai terlebih dahulu ataupun menuntut.[15]  Perlindungan ini hanya diberikan kepada rumah-ruma pribadi . sedangkan tempat-tempat umum seperti restoran, hotel, ataupun toko tidak termasuk dalam cakupan hadist Rosulullah di atas.  Dalam hadist lain Rasulullah juga juta telah melarang dengan keras membaca  surat-surat orang lain, sehingga jika ada orang yang melirik atau mengintip supaya dapat ikut membaca surat orang lain itu, kelakuan seperti itu patut dicela.[16]
 Pemerintah negara juga dilarang ikut campur dalam urusan-urusan pribadi warga negaranya. Rasulullah pernah mengatakan “Ketika seseorang penguasa mulai mencari-cari  sebab-sebab ketidakpuasan di tengah-tengah rakyatnya, maka dia telah mengotori mereka. [17] Diceritakan juga, ketika Sayyidina Umar mendengar seseorang laki-laki menyanyi di dalam satu rumah, umar akhirnya mengintip ke dalam rumah itu dari atas dinding karen curiga akan ada kemaksiatan terjadi. Beliau melihat ada seorang wanita dan laki-laki sambil membawa minuman anggur. Umar kemudian mencela mereka  tetapi karena dia teringat tindakannya melanggar hak pribadi mereka, Umar akhirnya tidak jadi memberi hukuman kepada mereka dan menerima terhadap kesalahan pribadinya. Umar akhirnya membebaskan kedua orang itu setelah mengambil sumpah mereka untuk hidup dalam kesalehan kedepannya.[18]

5.      Hak atas Keamanan dan Kemerdekaan Pribadi
Hak atas keamanan berarti bahwa setiap orang harus dibebaskan dari segala macam hukuman yang sewenang-wenang. Penangkapan yang sewenang-wenang. Dan atau segala tuduhan yang kemudian merampas terhadap hak rasa aman seseorang. Sedangkan hak kemerdekaan pribadi berarti bahwa setiap orang berhak mempunyai kemerdekaan; merdeka untuk berpendapat dan merdeka dari segala rasa takut dan diskriminasi. Dalam Islam dilarang memenjarakan seseorang kecuali telah jelas  dinyatakan bersalah dalam pengadilan hukum yang terbuka. Tidak seorangpun yang boleh ditahan kecuali  telah melalui proses hukum yang legitimate. Berikut ajaran dalam Al-Qur’an;

“ …. Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diatara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil ….. “ (Qs. An-Nisa’ : 58)

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”  (Qs. Al-Hujurat : 6)

Dalam satu riwayat, Rasulullah ketika berkhutbah pernah ditanya : “wahai Rasulullah, atas kejahatan apakah tetanggaku ini telah ditahan?, Rasulullah hanya mendengar pertanyaan itu dan meneruskan ceramahnya. Orang itu berdiri lagi dan menanyakan pertanyaan yang sama. Rasulullah tidak menjawab lagi dan terus melanjutkan ceramahnya. Orang itu lalu berdiri lagi dan mengulangi pertanyaan untuk ketiga kalinya. Akhirnya, Rasulullah SAW memerintahkan agar tetangga orang itu dibebaskan. Alasan mengapa Rasulullah tidak menjawab dua pertanyaan karena pada waktu juga hadir petugas polisi di dalam masjid, dan seandainya terdapat alasan yang tepat atas atas penangkapan orang ini, maka polisi itu pasti berdiri menjelaskan posisinya.  Petugas polisi itu sadar bahwa dalam hukum Islam tidak ada tempat bagi pengadilan rahasia. Karena dia tidak memberikan alasan apapun atas penangkapan itu pada pengadilan terbuka, maka cukup bagi Rasulullah untuk memberikan pembebasan orang yang ditangkap itu.
Satu pemerintahan Islam tidak diperbolehkan melakukan penangkapan kecuali setelah membuktikan tuntutan terhadap seseorang dalam sebuah pengadilan yang terbuka. Walaupun seseorang ditahan dalam usaha preventif, dasar-dasar kecurigaan  terhadap tersangka harus dinyatakan dalam pengadilan yang memutuskan apakah kecurigaan terhadap tersangka  harus dinyatakan dalam pengadilan terbuka dan pengadilanlah yang memutuskan tersangka menurut dasar-dasar yang dapat dipercaya atau tidak.[19] Diriwayatkan ketika Rasulullah mengadakan persiapan untuk penyerangan Mekkah, salah seorang sahabat beliau mengirim sebuah surat melalui seorang wanita  yang isinya membocorkan persiapan penyerangan itu. Nabi mendapatkan informasi itu melalui wahyu ilaahi. Kemudian Nabi mengutus Ali dan Zubeir dan mengatakan “pergilah kali menuju Mekkah dan pada suatu tempat tertentu kalian akan menjumpai seorang wanita membawa sebuah surat. Dapatkanlah surat itu dan serahkan kepadaku. Kemudian Ali dan Zubeir menemukan wanita itu dimana Rasulullah ceritakan. Surat itu akhirnya diambil dari wanita itu dan diserahkan kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian memangik Hatib untuk menghadap kepada pengadilan terbuka dimana dia diminta untuk menjelaskan posisinya  dalam kasus itu. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi terhadap praduga tak bersalah (presumption of innosent).
Ketika Umar menjadi khalifah, beliau tidak segan-segan untuk mengadili para gubernurnya dalam sidang terbuka. Meskipun saat itu situasinya sangat kritis karena daerah-daerah yang dikuasasi baru saja dalam masa taklukan. Di masa Sayyidina Ali, para kaum khawarij  sering mencaci maki beliau secara terbuka dan bahkan mengancam akan membunuhnya. Tetapi setiap mereka ditahan karena pelanggaran caci maki, Ali membebaskan mereka dan menjelaskan kepada petugas-petugasnya “ selama mereka tidak benar-benar melakukan kejahatan terhadap negara, dan bila sekedar memakai kata-kata kasar ataupun ancaman dengan kekuatan bersenjata, hal itu bukanlah menjadi pelanggaran sehingga mereka harus dipenjarakan.[20] Dalam agama Islam tidak diperbolehkan dipenjara kecuali telah diadili dalam satu pengadilan hukum yang legitimate.
Islam telah membuat peraturan-peraturan tentang persaudaran, keadilan, kemanusiaan dan menghapuskan sistem perbudakan. Nabi Muhammad telah membebaskan ratusan budak dengan membayar uang tebusan dari zakat. Kemudian Rasulullah selalu mengajarkan kepada pengikutnya “mereka adalah saudara-saudaramu yang di atas mereka  Allah memberi  wewenang. Kemudian bagi dia yang mempunyai saudara di bawah wewenangnya, haruslah memberinya pakaian sebagaimana pakaiannya sendiri, dan tidak membebankan tugas di luar kemampuannya serta jika dia ditugaskan sesuatu yang berat dan sulit, maka dia harus dibantu dalam melaksanakannya.[21] Bahkan Nabi telah mengajarkan bahwa antara majikan dan budak adalah sama derajatnya. Hak-hak keduanyapun sama.[22]  Ajaran yang ada dalam Islam sekali lagi menegaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi terhadap kemerdekaan dan hak- hak atas rasa aman.

6.      Hak Perlindungan dari hukuman yang sewenang-wenang
Setiap orang mempunyai hak untuk diberlakukan secara adil. Hukuman dengan cara yang sewenang-wenang sangat ditentang dalam  ajaran Islam.  Salah satu ciri pemberlakuan hukuman yang secara sewenang-wenang itu ialah memberlakukan hukuman terhadap orang yang jelas-jelas tidak bersalah. Setiap orang  dikenakan hukuman karena tindakan sendiri. Tidak diperbolehkan menghukum seseorang karena saudaranya bersalah. Ketentuan ini bisa ditemukan dalam Al-Qur’an yaitu ;

“ …… Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri;  dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain ….. (Qs. Al-An’am : 164)

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil  (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya …. (Qs. Fathir : 18)

Kandungan ayat Al-Qur’an di atas menegaskan bahwa tidak dibenarkan menanggungkan hukuman kepada orang lain walaupun yang bersangkutan adalah saudara dari seseorang yang dianggap bersalah secara hukum. Kebersalahan seseorang tidak bisa dialihkan kepada orang lan. Pernah terjadi ketika seorang penguasa muslim Hajjaj bin Yusuf ingin menghukum seorang laki-laki  hanya disebabkan saudaranya telah melakukan kejahatan. Namun, pada akhirnya dia tidak jadi melakukannya karena ia teringat kepada kandungan ayat di atas. Tetapi kalau melihat Indonesia, hak di atas sering dilanggar. Seringkali kasus-kasus  yang melibatkan pelaku  yang dituduh pelaku komando jihad ataupun pelaku teroris, keluarga dari pelaku seringkali menjadi korban dari kesewenang-wenangan hukum. Bahkan dalam kasus Komando Jihad istri pelaku yang dituduh terlibat dipukul padahal dalam kondisi hamil. Tentu ini ironis sekali.[23]

7.      Hak Untuk Memprotes Kelaliman Penguasa
Kekuasaan seringkali ingkar terhadap  amanah dan tanggungjawabnya. Sudah menjadi hukum umum bahwa kekuasaan selalu menindas dan menyesengsarakan terhadap warganya. Memang tidak semua warga yang ditindas, karena biasanya penguasa selalu mempunya parter dalam kekuasaanya. Para partner itu umumnya ialah para pemodal. Kekuatan uang dan modal dalam logika umum  kekuasaan ialah mampu menyelewengkan tanggungjawab kekuasaan untuk warga secara umum. Uang dan modal dalam banyak negara telah memicu penindasan yang tiada henti. Ajaran Islam sangat menentang terhadap praktek penindasan, segala kelaliman dan kekuasaan yang tirani. Karena itu dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa memprotes kelaliman penguasa ialah hak. Bahkan bukan hanya hak tetapi dalam  doktrin Islam ia telah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Allah menyebut sebaik-baiknya umat itu ialah mereka yang menyeru pada kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang kemungkaran (nahi mungkar). Berikut  ayat-ayat Al-Qur’an yang menjamin hak untuk memprotesl kelaliman;

“Allah tidak menyukai  ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang-orang yang teraniaya …. (Qs. An-Nisa’ : 148)

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Qs. Al-Ma’ idah : 78-79)

“ ….. Kami selamatkan orang-orang yang melarang  dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dzalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik” (Qs. Al-A’raf : 165)

“Kamu adalah umat  yang terbaik yang  dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf  dan mencegah dari yang mungkar ….. “ (Qs. Ali Imran : 110)

Rasulullah SAW sendiri telah mengajarkan  bahwa protes terhadap kelaliman merupakan jihad yang baik.[24] Beliau selalu memperingatkan bagaimana  konsekwensi jika seseorang muslim  diam dalam kondisi kemungkaran dan kalaliman. Sayyidina Abu Said Al-Khudri  meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :  “Jika seseorang melihat kemungkaran, maka dia harus menghentikannya dengan tangannya, dan jika tidak mungkin maka dengan kata-katanya, dan jika tidak mungkin maka (paling tidak) membencinya dengan sepenuh hati dan inilah keadaan iman yang  paling lemah.[25]
Ketika Abu Bakar  terpilih menjadi Khalifah, pidato pertama kepada rakyatnya beliau mengatakan : “Bantulah aku jika aku benar, dan jika aku salah maka luruskanlah aku”.[26] Rakyat di masa Abu Bakar sudah biasa dengan memperingatkan khalifah jika ada kejanggalan dan kesalahan. Pernah juga suatu ketika Umar mengadakan pertemuan Dewan Syuro untuk membatasi jumlah mahar. Ada seorang wanita menentang pandangannya berdasarkan ketentuan dalam  Al-Qur’an, setelah mendengar itu, Umar mengubah terhadap pendapatnya dan menerima pandangan seorang wanita itu serta berterimakasih  kepadanya karena telah mengoreksi dirinya.
Dalam kesempatan yang lain Sayyidina Umar pernah naik ke mimbar dan berkata, “wahai kaum muslim, jika aku lebih condong kepada keduniawian, maka apa yang kamu akan lakukan?” Seseorang laki-laki lalu berdiri dan mencabut pedangnya seraya berkata, “Kami akan memenggal kepalamu”. Untuk mengetes keberaniannya Umar bertanya kepadanya, “apakah benar-benar engkau memakai kata-kata seperti itu padaku?, orang itu menjawab, “Ya, memang begitu”. Akhirnya Sayyidina Umar berkata, “Segala puji bagi Allah dengan adanya orang seperti ini dalam umat ini yang jika aku salah maka dia akan meluruskanku.”[27] . 
Bahkan Sayyidina Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda, “Dalam masalah bersama, umat Islam harus mendengarkan dan mematuhi perintah orang yang memegang tanggungjawab, baik yang disetujui ataupun yang dibenci, dengan syarat perintah itu tidak menyebabkan dosa. Jika diperintahkan untuk tidak taat kepada Allah maka kaum muslim harus tidak melaksanakannya.[28] Seorang muslim tidak dibenarkan dipimpin oleh orang dzalim dan lalim karena itu jika ada pemimpin seperti itu menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menurunkannya. Rasulullah bersabda “orang-orang yang menyokong tindakan lalim para penguasa sesudahku, mereka bukan termasuk umatku.[29] imam Ibnu Hazm juga menyatakan bahwa Imam ideal wajib ditaati, sebab ia mengarahkan manusia dengan kitabullah dan sunnah rasulnya. Jika ada yang menyimpang  dari keduanya maka harus diluruskan bahkan jika perlu diberi hukuman had. Jika hal itu tidak membuatnya berubah maka ia harus dicopot dari jabatannya.


8.   Hak Kebebasan Berekspresi dan Berpendapat
Hak kebebasan berekpresi dan berpendapat juga sangat dijamin dalam agama Islam.  Dalam pandangan Islam, kebebasan bereksperesi dan berpendapat merupakan bagian aktualisasi terhadap renungan terhadap kejadian apa yang dilangit dan dibumi untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan di muka bumi. Hak berpendapat sangat dijamin dalam Islam apalagi dalam konteks menjalankan perintah “amar ma’ruf dan nahi mungkar”. Artinya berpendapat juga dibatasi oleh hak-hak orang lain. Pendapat tidak boleh bernada hasut dan fitnah tetapi harusnya mendasarkan pada fakta-fakta.
Rasulullah ketika hidupnya sangat menghargai terhadap kebebasan ekspresi dan pendapat para sahabatnya. Bahkan beberapa sahabat tidak segan-segan berbeda pendapat dengan nabi. Ketika perang Uhud, Rasulullah meminta kepada para sahabat untuk melawan musuh di dalam kota madinah, mereka bertanya kepada Rasulullah mengenai posisi beliau berkaitan dengan pendapat yang beliau kemukakan. Ketika Rasulullah mengatakan bahwa pendapatnya itu bukan berasal dari wahyu ilaahi tetapi pendapat Ia sebagai manusia biasa. Para sahabatpun bertahan dengan pendapat mereka sendiri yaitu berperang di medan pertempuran Uhud. Nabi menerima terhadap perbedaan pendapat itu dengan mental yang gagah.
Khalifah Abu Bakar dan Umar sudah terbiasa mengundang kaum muslim untuk meminta kritik berkaitan dengan satu persoalan. Kaum muslimpun tanpa ragu-ragu melakukan kritik terhadap mereka. Ada satu riwayat yang begitu mengesankan yaitu ketika Sayyidina Umar dalam perjalanan ke Syiria, beliau mengucapkan di depan umum alasan-alasan untuk membenarkan tindakan pemecatan Sayyidina Khalid bin Walid. Kemudian ada seorang berdiri dan berkata “Wahai Umar, demi Allah, Engkau telah berlaku tidak adil. Engkau telah memecat orang telah ditunjuk Rasulullah. Engkau telah menyarungkan kembali pedang yang telah dicanangkan Rasulullah. Engkau telah melepaskan tali persaudaraan. Engkau telah menampakkan kecemburuan terhadap keponakanmu. Dan Sayyidina Umar hanya berkata “Engkau telah merasa marah karena kesetian kepada Saudaramu”.[30]
Dalam satu kesempatan yang lain, ada seseorang berdiri dan terus menerus berkata, “Wahai Umar, takutlah kepada Allah.”. lalu salah seorang dari mereka yang hadir menahannya agar tidak berbicara lebih banyak, tapi Sayyidina Umar berkata “Biarkanlah dia berkata, jika orang-orang ini tidak berbicara maka mereka sia-sia berada disini; dan jika kita tidak mendengarkan mereka maka kitapun tidak berguna”.
Pada masa kekhalifahan Ali, kaum khawarij sangat sering melontarkan cacian secara terang-terangan bahkan mereka mengancam akan membunuh Khalifah Ali. Pernah ketika Ali memberikan ceramah dalam sebuah masjid, kaum khawarij mengumandangkan slogan khusus pada Ali. Kemudian Ali berkata “Kami tidak akan menolak hak-hak kalian untuk datang ke masjid untuk tujuan beribadah kepada Allah, kami tidak akan berhenti memberi bagian harta negara kepada kalian selama kalian bersama kami (perang melawan orang-orang kafir) dan kami tidak akan mengambil tindakan militer melawan kalian selama kalian tidak melawan berperang terhadap kami”. Ajaran dan kisah-kisah di atas menegaskan cukup jelas sekali betapa Islam sangat menghargai terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat.

9.      Hak  Kebebasan Hati Nurani dan Keyakinan
Salah satu hak yang yang diajarkan Islam dan cukup substansi ialah hak kebebasan hati nurani dan keyakinan. Persoalan keyakinan adalah milik setiap manusia. Ia mempunyai kebebasan untuk menentukan hati nurani dan keyakinannya. Termasuk di dalamnya ialah memeluk  suatu agama. Islam mengajarkan tidak ada pemaksaan dalam memeluk agama. Islam menyadari bahwa agama sangat berkaitan dengan keyakinan yang tentu melibatkan hati dan akal yang sehat. Islam memandang memeluk agama bukanlah bukanlah pekerjaan main-main apalagi harus dipaksa. Dalam Al-Qur’an disebutkan;

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah : 256)

Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir). Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (Qs. Al-Kafirun : 1-6)

“Sesungguhnya orang yang beriman hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan Rosulnya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, itulah mereka yang benar” (Al-Hujurat : 15)

Ayat pertama diatas, sebab-sebab turunnya sebagaimana dituturkan Quraish Shihab, diriwayatkan seorang lelaki bernama Abu Al-Husain dari keluarga Bani Salim Ibnu Auf mempunyai dua orang anak lelaki yang telah memeluk agama Nasrani sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Tuhan sebagai nabi. Kemudian kedua anak itu datang ke Madinah (setelah datangnya agama Islam), maka ayah mereka selalu meminta agar mereka masuk agama Islam dan ia berkata kepada mereka, “Saya tidak akan membiarkan kamu berdua, hingga kamu masuk Islam.” Mereka lalu mengadukan perkaranva itu kepada Rasulullah saw. dan ayah mereka berkata, “Apakah sebagian dari tubuhku akan masuk neraka?”. Maka turunlah ayat ini, lalu ayah mereka membiarkan mereka itu tetap dalam agama semula.
Sedangkan ayat kedua turun sebagai jawaban atas peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun, mengikuti ajaran Nabi, dan tahun berikutnya mereka semua, termasuk Nabi dan kaum muslim, menyembah berhala-berhala tradisional mereka. Tapi nabi menolaknya. Karena bagi nabi dalam memeluk suatu agama bukanlah tindakan main-main dan tidak ada paksaan di dalamnya.
Penjelasan dalam Al-Qur’an di atas sangat menjelaskan betapa Islam menghargai terhadap perbedan agama dan perbedaan keyakinan. Hak-hak kebebasan hati nurani dan berkeyakinan dijamin dengan luar biasa. Sehingga dalam konteks ini tidak diperbolehkan umat Islam melakukan pemaksaan terhadap umat non muslim untuk beragama Islam. Baik cara-cara yang digunakan menggunakan strategi tekanan politik, tekanan sosial ataupun tindakan-tindakan provokasi. Nabi telah mengingatkan bahwa Islam hadir bukanlah untuk dipaksakan tetapi dipahami dan diyakini. Tidak ada istilah Islam KTP dalam Islam. Karena sebagaimana Allah katakan dalam ayat terakhir di atas, dampak dari keberimanan (keyakinan) terhadap agama ialah ketika seseorang telah total untuk mengorbankan jiwa dan raganya di jalan Allah.
Salah satunya kisah Astiq, seorang budak Nashrani milik Sayyidina Umar. Umar selalu mempengaruhinya untuk menerima ajaran Islam. Ketika Astiq menolak, Umar hanya berkata “tidak ada paksaan dalam beragama”. Umar memerdekakan budaknya itu sebelum kematiannya. Selain  itu Islam juga telah mengajarkan bahwa kebebasan hati nurani dan berkeyakinan juga berkaitan dengan simbol-simbol ideologi dan politik. Islam melarang penggunaan bahasa dan kata-kata kotor terhadap yang berbeda keyakinan. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah, “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah” (Qs. Al-An’am : 108).
Islam juga mengajarkan bahwa hak kebebasan hati nurani dan berkeyakinan tidak hanya berlaku terhadap kelompok non muslim saja, tetapi juga berlaku kepada sekte-sekte (tha’ifah) yang ada dalam Islam sendiri. Seperti di masa Khalifah Ali, beliau berbeda dengan sekte khawarij tetapi beliau sangat menghormati keyakinan mereka dan tidak menghancurkannya. Hak kebebasan hati nurani dan berkeyakinan juga meliputi kebebasan melakukan dakwah agama. Tidak ada pemerintahan Islam yang dapat melarang dakwah agama lain yang ada di dlam wilayah kekuasaannya. Para penganut agama lain juga berhak untuk membangun tempat-tempat ibadah mereka. Dalam konteks ini umat Islam apalagi pemerintahan Islam tidak boleh ikut campur dalam urusan mereka.[31]

10.  Hak Kebebasan Berserikat
kebebasan berserikat, berorganisasi, berkumpul dan melangsungkan proses-proses pergerakan sangat dihormati dalam ajaran Islam. Islam menjamin sepenuhnya terhadap hak kebebasan berserikat. Menurut pandangan Islam, perserikatan umat merupakan basis penumbuhan kesadaran sosial dan politik masyarakat.  kesadaran itu yang kemudian memunculkan sikap-sikap mendorong kebaikan-kebaikan (amar ma’ruf) dan menolak segala manipulasi dan keburukan-keburukan (nahi mungkar) yang ada dalam lingkungan sosial dan kenegaraan. Sebagaimana Al-Qur’an katakan;

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru terhadap kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang yang bercerai-berai dan berselisih susudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (Qs. Ali Imran : 104-105)

Ayat di atas sungguh menegaskan betapa Islam menyuruh umatnya harus membangun perserikatan atau organisasi. Perserikatan atau organisasi ialah media pembebasan dan pemerdekaan dari segala diskriminasi dan penindasan. Sehingga tidak ada alasan yang dibenarkan dalam Islam dalam konteks pembubaran suatu organisasi atau perserikatan. Kecuali memang terbukti secara hukum yang legitimate bahwa suatu organisasi atau perserikatan berbahaya secara kemanusiaan. Seperti kisah Khalifah Ali yang berkali-kali dikutip karena muatannya yang memukau. Ali mengatakan kepada petugas pemerintahannya terkait kelompok Kwarij yang menjadi penentang dan akan membunuhnya, “Selama mereka tidak secara nyata melakukan pelanggaran terhadap negara, jika sekedar penggunaan kata-kata kasar, maka tidaklah itu termasuk pelanggaran hingga mereka harus ditahan”. Kelompok Khawarij oleh Khalifah Ali selalu dihargai dan dihormati.

11.     Hak Kebebasan Berpindah
Islam tidak melarang umat Islam untuk berpindah-pindah tempat. Setiap orang mempunyai hak untuk tidak menetap di satu tempat atau daerah. Termasuk Islam sangat mengecam keras atas tindakan pengusiran sekelompok orang dari rumahnya. Kebiasaan pengusiran dilakukan oleh orang-oran Yahudi. Allah sangat mengecam tindakan mereka, sebagaimana firman Allah;

“Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu (yaitu) : kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu. Kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampunng halamannya …..” (Qs. Al-Baqarah : 84-85)

Melalui ayat ini Allah mengecam terhadap prilaku kelompok Yahudi (Bani Israil) yang mempunyai kebiasaan buruk membunuh orang dan mempunyai kebiasaan mengusir saudara-saudaranya sendiri yang sebangsa. Secara tersirat ayat ini menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk memlilih bertempat tinggal di satu tempat. Bebas dari pengusiran ataupun pemaksaan untuk tidak tidak berpindah. Sebagaimana Ali katakan untuk kaum Khawarij bahwa mereka dapat bertempat tinggal di manapun dalam wilayah negara Islam ini. tidak ada tindakan yang diambil terhadap mereka kecuali jika mereka jelas-jelas mengadakan pelanggaran terhadap negara secara nyata.[32]

12.     Hak Persamaan di Depan Hukum
Islam sangat menjamin dan menjunjung tinggi terhadap persamaan setiap manusia di depan hukum. Tidak ada pembedaan antara kelompok kaya dan miskin. Antara bangsawan dan kelompok rendahan. Semuanya harus diadili sesuai aturan yang berlaku. Semuanya sederajat ketika ada di depan hukum. Islam sangat menjunjung tinggi tegaknya supremasi hukum. Hukum tidak dikalahkan oleh apapun dan siapapun, semuanya harus tunduk di bawah ketentuan-ketentuan hukum. Sehingga sangat wajar peradaban di Madinah terbangun dengan baik, kesadaran dan komitmen kemanusiaan terbangun karena semuanya telah diikat oleh kesetaraan hukum yang bermartabat. Allah berfirman;

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.Al-Hujurat: 13)

“Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari  diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (Qs. An-Nisa’ : 1)

Dua firman Allah di atas menerangkan dengan gamblang betapa Allah mensederajatkan semua orang. Semua manusia. Tidak ada bedanya satu sama lain dalam ukuran yang fisik tetapi dibangun dalam konstruk ketaqwaan seseorang. Ketaqwaan bukanlah label dari strata fisik seseorang tetapi watak dan prilaku kesalehan spritual dan sosial. Nabi ketika khutbah Haji Wada’ mengatakan, “orang-orang Arab tidak mempunyai keunggulan atas orang-orang non Arab, begitu juga orang non Arab tidak mempunyai keunggulan atas orang Arab. Demikian juga orang kulit putih tidak mempunyai keunggulan atas orang kulit hitam atau orang kulit hitam tidak mempunyai keunggulan atas kulit putih. Semuanya adalah anak keturunan Adam dan Adam diciptakan dari tanah liat.[33]
Agama Islam telah menghancurkan diskriminasi kasta, kepercayaan, perbedaan warna kulit, dan agama. Pernah ada kisah, seorang wanita dari keluarga bangsawan ditangkap karena keterlibatannya dalam pencurian. Kasus ini dihadapkan kepada Rasulullah dan diminta agar kemungkinan wanita itu dimaafkan. Akan tetapi Rasulullah menjawab, “Bangsa-bangsa yang hidup sebelum kamu telah dibinasakan oleh Allah karena mereka menghukum orang-orang yang biasa dari rakyat jelata atas pencurian yang mereka lakukan, akan tetapi membiarkan bangsawan terkemuka dan berkedudukan tinggi tanpa dihukum atas pencurian yang mereka lakukan. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, andaikata Fatimah putriku sendiri mencuri maka aku akan memotong tangannya.[34] Rasulullah juga bersabda, “Berilah hukuman yang adil bagi bagi keluarga yang jauh maupun yang dekat, dan janganlah takut akan celaan orang dalam menegakkan batas-batas yang telah ditentukan Allah.[35]
Pada masa khulafa’ rasyidin, hak-hak persamaan di depan hukum betul-betul ditegakkan sebagaimana perintah Allah dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Sayyidina Umar pernah berkirim surat kepada Abu Musa Asy’ari seorang Gubernur Kuufah, Umar Menulis, “Keadilan adalah suatu kebajikan setelah beribadah kepada Allah. Berlakulah secara adil dengan dewan pengadilanmu sehingga orang yang lemah tidak akan kehilangan harapan untuk mendapatkan keadilan dan orang yang kuat tidak mengharapkan keuntungan dari ketidakadilanmu”.[36]
Sayyidina Umar juga pernah memanggil semua pejabat tinggi pada waktu ibadah haji dan mengumumkan jika ada yang mempunyai pengaduan terhadap seseorang, maka dia harus datang untuk mengadukannya. Amr bin al-Ash, Gubernur Mesir dan beberapa pejabat lain hadir pada waktu itu. kemudian ada seseorang mengadu bahwa ada seorang pejabat tertentu yang hadir pada waktu telah mencambuknya seratus kali pukulan tanpa ada dasar kebenaran. Sayyidina Umar lalu menyuruhnya berdiri dan menuntut membela dirinya. Tetapi Amr bin al-Ash memprotes, “Wahai pemimpin orang-orang yang beriman!. Hal ini nantinya akan membuat semua pejabat berkecil hati”. Namun Sayyidina Umar menjawab, “Meski demikian hal ini akan tetap dilakukan”, sambil berkata, “Teruskan!”. Akhirnya Amr bin Al-Ash merayu pengadu itu untuk membatalkan klaimnya dengan mengganti dua ratus dinar.
Praktek persamaan di depan hukum tidak hanya terjadi antara pejabat dan warga negara, tetapi antar pejabat persamaan hukum juga diberlakukan. Pernah terjadi perselisihan antara Sayyidina Umar dengan Ubai bin Ka’ab. Ubai mengajukan tuntutannya di pengadilan  Zaid bin Tsabit sedangkan Sayyidina Umar muncul sebagai tersangka. Zaid menyampaikan rasa hormatnya kepada Umar dan mengomentarinya bahwa hal ini merupakan pelanggaran yang pertama terhadap keadilan. Umar akhirnya duduk di samping Ubai. Ubai sendiri tidak mempunyai bukti yang dia inginkan untuk membuat Sayyidina Umar bersumpah sesuai dengan praktik yang diinginkan. Zaid bin Tsabit karena rasa hormatnya kepada Umar akhirnya meminta Ubai bin Ka’ab untuk membebaskan Umar atas informasi itu. Namun Sayyidina Umar tidak suka dengan prilaku Zaid yang cenderung memihak kepadanya, sambil berkata, “Selama orang biasa dengan Umar tidak sama di hadapanmu, maka kamu tidak dapat dianggap sesuai untuk menjadi seorang hakim”.[37]
Lalu bagaimana hak waris antara laki dan wanita?, menurut Iqbal, bagian anak perempuan tidak ditentukan berdasarkan keadaan atau sifat yang lebih lemah yang melekat  padanya, akan tetapi ditentukan dalam pandangan peluang-peluang ekonominya dan tempat dalam struktur sosial yang ia duduki dimana ia merupakan salah satu bagian dan bidang darinya. Perempuan menurut hukum Islam merupakan pemilik penuh atas harta yang diberikan kepadanya oleh ayah atas suaminya pada waktu pernikahannya. [38] Pendapat Iqbal memperlihatkan bahwa hak antara laki-laki dan perempuan pada akhirnya pembagiannya adil.
Dimasa khulafa’ rasyidin tidak ada diskriminasi di depan hukum terhadap siapapun, termasuk kepada umat yang non muslim. Hak-hak mereka dihargai bahkan beberapa orang dari mereka memegang jabatan strategis seperti penasehat khalifah. Ketika pendudukan Irak telah dilaksanakan, Umar memanggil tuan tanah Persia ke Madinah untuk membuat kebijaksanaan pendudukan yang sesuai dengan saran dan nasehat mereka. Umar juga telah meminta saran kepada Cyrus seorang Gubernur Romawi mengenai berbagai masalah yang berhubungan dengan pendudukan di Mesir.[39] Demikian Islam mengajarkan persamaan kedudukan di depan hukum yang sungguh memukau.

13.  Hak Mendapatkan Keadilan
Hak mendapatkan keadilan mendapatkan perhatian serius dalam Islam. Begitu banyak ayat-ayat Al-Qur’an, Hadist dan Sunnah yang membicarakan soal hak atas keadilan. Allah memerintah kepada semua hamba-Nya untuk berlaku adil kepada siapapun dan kapanpun. Allah sangat melarang terhadap dusta dan kebohongan-kebohongan. Tindakan adil adalah lebih dekat pada watak ketaqwaan seseorang. satu tingkatan yang disebut Allah sebagai sebaik-baiknya derajat. Berikut beberapa firman Allah;
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,”
 (an-Nahl: 90)

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (al-Hadid: 25)

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” (al-Baqoroh: 143)

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Alloh lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Alloh adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (an-Nisa: 135)

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Maidah: 8)

Dan (Dia menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (an-Nisa: 58)

Membaca firman- firman Allah di atas, maka sungguh teramat tegas betapa Islam menghargai terhadap supremasi hukum dan keadilan di dalamnya. Allah mengecam terhadap politisasi hukum sehingga takluk kepada kekuasaan dan penguasa. Allah memerintahkan setiap hambanya yang berimana kepada-Nya untuk menjadi penegak kebenaran. Tidak penyimpang siuran fakta-fakta dan memainkan kata-kata. Demikian juga Allah mengecam terhadap pembuatan hukum yang tidak berkeadilan sosial. Karena hukum sebagamana Mahfud MD katakan tidak terlepas dari konstelasi politik kekuasaan. Hukum seringkali kalah pada kuatnya kekuasaan politik. Islam mengecam terhadap hukum yang berorentasi pada kepentingan modal dan kekuasaan yang akhirnya menindas warganya. Islam juga mengecam terhadap penyimpangan-penyimpangan hukum.
Memang diawal pemerintahan khulafa’ rasyidin tidak ada pemisahan antara kekuasaan legislatif dan eksekutif. Tetapi setelah Umar memimpin sistem seperti itu dirombak dan dua kekuasaan itu dipisahkan. Itu dilakukan untuk menghindari penyelewengan-penyelewengan kekuasan sehingga menciderai hak-hak keadilan.  Umar memisahkan badan pengadilan secara keseluruhan dari institusi negara lainnya dan beliau membentuk dewan pengadilan pada setiap wilayah. Pengadilan di masa itu bebas biaya, para pencari keadilan tidak dipungut biaya karena dalam Islam tidak dikenal jual beli keadilan. Para khalifah biasa mengusut secara hukum atau menuntut gubernur-gubernur mereka karena adanya  pengaduan dan keluhan dari masyarakat.
Umar pernah mengadakan pertemuan besar dan berbicara pada hadirin, “Para pejabat itu ditunjuk untuk tidak menganiaya atau merampas harta bendamu, melainkan mereka ditunjuk dan diangkat untuk mengajarimu Sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu, jika ada pejabat yang bertindak sebaliknya maka beritahukan kepadaku sehingga harus terdesak untuk memperbaikinya”. Amr bin Ash seorang Gubernur Mesir berdiri dan berkata, “Apakah engkau akan menghukum seorang pejabat yang memukul seseorang untuk melaksanakan kedisiplinan?”. Umar berkata, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya bahwa pasti aku akan menghukumnya karena aku sendiri telah melihat Rasulullah juga menghukum pejabat-pejabat yang berlaku demikian. Ambillah peringatan ini dan janganlah kamu merampas hak-hak mereka kecuali terpaksa karena mereka melakukan kesalahan.[40]
Dalam Islam juga keberadaan pengacara tidak dibayar oleh kliennya. Dalam susunan pemerintah Islam mereka dibayar oleh pemerintah. Keberadaan mereka berfungsi sebagai pemberi pendapat-pendapat hukum. Mereka dikenal dengan badan Ifta. Dalam hal ini hanya mufti yang berkompeten dan berhak untuk memberikan pendapat-pendapat hukumnya. Institusi Ifta masih berlangsung dalam masyarakat muslim meski pemerintahan khulafa’ rasyidin telah berakhir, bahkan konsep ini pernah berlaku di subkontinen sebelum akhirnya muncul kekuasaan Inggris[41]. Ajaran-ajaran Islam di atas dibangun hanya semata-mata untuk menjaga kebenaran dan hak atas keadilan masyarakat.
 
14.  Hak untuk Mendapatkan Kebutuhan Dasar Hidup
Kebutuhan dasar warganegara sangat diperhatikan dalam ajaran Islam. Hak-hak mereka untuk mendapatkan kebutuhan dasar hidup itu harus dijamin secara serius oleh pemerintahan Islam. Islam mengajarkan bahwa keberadaan harta benda seseorang terdapat hak-hak orang lain dan negara harusnya memfasilitasi dan membuat sistem bagaimana harta benda itu diatur sedemikian rupa. Salah satunya zakat dan ataupun pajak di satu negara, bagaimana pengelolaan keduanya dibangun seutuhnya untuk mensejahterakan warga negara. Sehingga tidak ada pembenaran bahwa masih banyak masyarakat yang tidak bisa makan dan serba kekurangan gizi sedangkan disisi yang lain masih banyak orang-orang yang kaya dan tidak tersentuh hukum. Allah berfirman,

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (Qs. Adz-Dzariyat : 19)

Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa kepada umat dan pemimpin Islam bahwa harta benda yang berada dalam penjagaan mereka  merupakan harta Allah yang mereka pegang sebagai amanah. Menjadi kewajiban kepada mereka untuk membelanjakannya sesuai dengan bagaimana Allah sebagai pemilik harta yang sesungguhnya inginkan. Karena pemerintahan Islam mempunyai kewajiban untuk membantu, menanggung dan menyokong penghidupan mereka  yang tidak mempunyai apa-apa untuk dapat hidup layak.
Ada satu riwayat dari Abu Hurairah, ketika ada pemakaman seseorang yang meninggal dunia sementara dia mempunyai utang dan dibawa ke hadapan Rasulullah untuk dishalatkan. Rasulullah seperti biasa bertanya apakah almarhum itu telah meninggalkan harta untuk menanggung tanggungannya. Jika jawabanya “iya” maka beliau mau menyolatkan, jika tidak beliau meminta orang lain saja untuk menyolatkannya. Rasulullah bersabda dalam satu khutbahnya, “Aku lebih dekat kepada umatku daripada mereka sendiri, dan demikian jika ada orang Islam yang meninggal dunia dan berutang maka menjadi tanggungjawabku untuk membayar hutangnya. Adapun harta yang mungkin dia tinggalkan adalah untuk para ahli warisnya”.[42]
Dalam kisah-kisah sahabat nabi diceritakan. Ada suatu perjanjian yang dibuat oleh Komandan Muslim Sayyidina Khalid bin Walid pada masa kekhalifahan Abu Bakar pada penaklukan Hira, yang berisikan kata-kata demikian;

“Dan aku akan menjamin hak bahwa jika ada orang yang telah tua dan menjadi tidak mampu untuk bekerja atau ada yang menderita akibat kecelakaan atau jika ada orang yang kaya kemudian jatuh miskin sekali sehingga saudara seimannya mulai memberinya sedekah maka jizyahnya dibatalkan. Dia dan anak-anaknya akan menerima belanja hidup dari kas negara selama dia hidup dalam negara Islam ini. Jika dia keluar meninggalkannya maka kaum muslim tidak bertanggungjawab atas pemeliharaan keluarganya”.[43]

Ketika masa khalifah Sayyidina Umar, beliau menyampaikan berita kemenangan kaum muslimin atas Qadisiyah dan beliau menyampaikan pidato di depan hadirin, yang isinya ialah;
“Aku akan tetap memperhatikan atas terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar hidup orang-orang yang memerlukan. Aku akan terus melakukan demikian meski sampai habis sumber-sumber kita. Kemudia aku akan mencari kerjasama dengan kalian dan mengetahui bahwa kebutuhan hidup semua orang telah terpenuhi. Aku disini bukanlah seorang raja yang memperbudak kalian, tetapi aku disini telah dipercaya dengan penuh rasa tanggungjawab akan melayani kalian”.

Rasulullah bersabda, “Pemerintah adalah pelindung bagi setiap orang yang tidak mempunyai pelindung”. Dalam konteks ini kemudian Al-Mawardi mengatakan bahwa salah satu kewajiban fundamental pemerintah Islam ialah menjamin penghidupan rakyatnya dan mendistribusikan sumbangan serta sedekah kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya.[44]  Ajaran dan kisah-kisah pemimpin Islam di atas menegaskan bahwa hak atas kebutuhan dasar wajib diberikan negara tanpa memandang ras, agama dan golongan. Semuanya harus diberlakukan secara adil.

15.  Hak atas Pendidikan
Hak atas pendidikan juga mendapatkan perhatian sangat serius dalam agama Islam. Betapa tidak pendidikan merupakan fondasai dari perwujudan kemanusiaan dan peradaban. Allah dalam firmannya telah menegaskan bagaimana umat Islam belajar untuk membaca (iqra’),  dan meminta mereka untuk menggunakan akal pikiran secara total. seperti firman Allah berikut;
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (Qs. Al-Alaq : 1)

“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman" (Qs. Yunus : 101)

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (Q.S An-Nahl ayat 43)

Firman-firman Allah di atas mengajarkan bahwa belajar dan menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap hamba-hambanya. Rasulullah juga bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, “Menuntut ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim”. Hadist ini sekali lagi menegaskan betapa sangat vitalnya pendidikan dalam Islam. Pendidikan mendapatkan perhatian yang serius oleh dalam Islam bahkan Allah mengatakan dalam firman-Nya bahwa tidak akan sama antara orang-orang berilmu dengan orang-orang tidak berilmu. Orang berilmu ialah orang-orang yang menggunakan nalar pikirnya dalam menjalankan kehidupan.
Oleh karena itu, pemerintah Islam mempunyai kewajiban terhadap warganya untuk memenuhi hak mendapatkan pendidikan. Pemerintah mempunyai kewajiban untuk membangun fasilitas pendidikan, membiayai pendidikan secara gratis buat peserta didik. Islam tidak membenarkan pemerintahan Islam kalau kemudian masih ada anak-anak yang tidak sekolah sehingga menyebabkan kebodohan dan kenakalan remaja yang meningkat.

KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran Islam sangatlah menghormati terhadap hak asasi manusia. Walaupun terdapat perbedaan pendapat di internal Umat Islam sendiri terkait dengan konsepsi HAM ala barat dan HAM Islam, yang dapat dibaca dari historisitas munculnya Deklarasi Kairo sebagai revisi terhadap konsep HAM barat dalam DUHAM tetapi perbedaan itu tidak menghilangkan sama sekali terhadap substansi ajaran Islam yang sangat menjunjung tinggi nilai HAM.
Dalam paper ini djelaskan sekitar 15 (lima belas) hak asasi manusia yang ada dalam Islam, meliputi hak hidup, hak milik, hak perlindungan kehormatan, hak keamanan dan kesucian kehidupan pribadi, hak kemerdekaan pribadi, hak perlindungan dari hukuman yang sewenang-wenang, hak untuk memprotes kelaliman, hak kebebasan berekspresi, hak kebebasan hati nurani dan berkeyakinan, hak kebebasan berserikat, hak kebebasan berpindah, hak persamaan di depan hukum, hak mendapatkan keadilan, hak untuk mendapatkan kebutuhan dasar hidup, dan terakhir untuk mendapatkan pendidikan.
Hak-hak tersebut terumuskan dengan sangat jelas dalam ajaran-ajaran Islam meliputi Al-Qur’an, Al-Hadist, pendapat sahabat ataupun kisah para pemimpin Islam. Ungkapan dan kisah dari berbagai hak-hak itu sungguh menegaskan betapa ajaran Islam dan pemimpin Islam sangat menghormati dan menjunjung tinggi terhadap HAM. Sejarah kepemimpinan Islam terutama dalam masa khulafa’ al-rasyidin sungguh memberikan contoh bagaimana hak-hak itu diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan mereka. berangkat dari review di atas, tidak ada alasan sedikitpun untuk mengatakan bahwa Islam bertentangan dan berlawanan dengan HAM. 

Daftar Pustaka :  
-Ahmad Kosasih, MA, 2003, HAM dalam Perspektif Islam (Menyingkap Persamaan dan Perbedaan
Antara Islam dan Barat), Salemba Diniyah
-Supriyanto Abdi, Mengurai Kompleksitas Hubungan Islam dan HAM, dalam UNISIA Jurnal
Ilmu-Ilmu Sosial No 44/XXV/1/2002
           - Hamka, 1976, Tafsir Al-Azhar, Juz IV, Yayasan Nurul Islam, Jakarta
           - Syekh Syaukat Hussain, 1996, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, Gema Insani Press
            -Laporan penelitian Pelanggaran HAM dalam Komando Jihad, 2008, Pusham UII
-Dalizar, 1987, Konsepsi Al-Qur`an Tentang Hak-Hak Asasi Manusia, Pustaka Al-Husna, Jakarta
            -Tim Pusham UII, 2009, Memangnya Ada HAM dalam Islam?, Pusham UII, Yogyakarta
-Syukron Kamil dan Chaider S. Muallim (editor), 2007, Syariah Islam dan HAM, CSRC UIN Syarif
  Hidayatullah, Jakarta


[1] Lihat Drs. Ahmad Kosasih, MA, HAM dalam Perspektif Islam (Menyingkap Persamaan dan Perbedaan Antara Islam dan Barat), Salemba Diniyah, 2003, hlm 9
[2] Lihat Supriyanto Abdi, Mengurai Kompleksitas Hubungan Islam dan HAM, dalam UNISIA Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial No 44/XXV/1/2002, hlm 73
[3] Pandangan kedua ini kemudian menginisasi pertemuan The Organization of Islamic Conference (OIC) bulan Agustus 1990 di Kairo dan menghasilkan “The Cairo Declaration of Human Rights in Islam” yang memperbaiki terhadap rumusan UDHR. Demikian juga pernah sebelumnya pada pertemuan UNESCO pada tanggal 19 September 1981. Pada waktu itu, the Islamic Council yang bermukim di London berhasil menyiapkan draf deklarasi, yakni Universal Islamic Declaration of Human Rights, walaupun draf itu akhirnya gagal disepakati forum.
[4] Mengapa mulai dari nabi Adam, karena dia adalah nabi dan rosul Allah yang pertama. Dalam sejarah dikenal bahwa Adam dan Hawa hidup sekitar tahun 300. 000 SM ialah awal perubahan dari Homo Erectus (mamalia) yang hidup selama 1.000.000 tahun SM (1,5 juta SM - 500.000SM) menjadi Homo Sapiens (menjadi manusia) yang hidup sekitar tahun 300. 000 SM. Adam dan Hawa  diyakini sebagai leluhur umat manusia, yang muncul sekitar tahun 300.000 SM. Komunitas manusia pertama, bermula di Bakkah/Mekkah (QS.3:96) atau dikenal dengan Ummul Quro /Ibu Negeri (QS.42:7), dimana mula-mula tempat peribadatan didirikan. Nabi Adam dan masyarakat di Bakkah adalah manusia yang berbudaya, mereka telah mengenal pakaian dan berkomunikasi dengan bahasa yang santun.
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz IV, Yayasan Nurul Islam, Jakarta, 1976, hlm 203
[6] Lihat Shibli Nomani, al-farooque, hlm 264-268 dalam Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[7] Dalam riwayat Abu Hurairah, nabi bersabda : Inna Allaha ja'ala al haqqa ‘ala lisani Umar wa qalbihi. Salah satu ijtihad kemanusiaan Umar ialah tentang potong tangan. Ada dua keterangan, pertama, dari Imam Malik, "Sesungguhnya Ubaidillah bin Amr bin al Hadrami datang membawa seorang budak kepada Umar bin Khottob dan berkata, "Potonglah tangan budakku ini karena dia telah mencuri!" Umar bertanya, "Apakah yang dicurinya?" Ubaid menjawab, "Dia telah mencuri cermin istriku seharga 60 dirham." Kemudian Umar berkata: "Pergilah! tidak ada potong tangan baginya. Budakmu mengambil hartamu".
Kedua, riwayat dari Ibn Abi Syaibah dari al Qosim bin Abdir Rohman, "Sesungguhnya seorang laki-laki mencuri dari Baitul Maal. Kemudian Saad ibn Abi Waqqosh melaporkannya kepada Umar. Umar menyatakan kepada Saad agar tidak memotong tangannya karena bagi pencuri itu ada bagian dari harta Baitul Maal itu”
[8] Naim Siddiqui, Moshine-e –Insaniyat, hlm 224 Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[9] Amin Ashan Islahi, Islami Riyasat, vol. 4, hlm 1 Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[10] Kitabul Kharaj, hlm 377 Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[11] Moinuddin Nadvi, Deen-e-Rahmat, hlm. 249 Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[12] Tantawi, Umar Bin Khattab, hlm 242, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[13] Shibil Nomani, Al-Faroque, hlm 270 dalam Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996, hlm 64
[14] Ibid
[15] Maududi, Human Rights in Islam, hlm 27 Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[16] Ibid
[17] Maududi, Tafhimul Qur’an, Vol. 5 hlm 89 Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[18] Lihat Miskat Kitab al-Imarah wa Quaza dalam Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, hlm 66
[19] Amin Ashan Islahi, Islami Riyasat, Vol. 4, hlm 19 dalam Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[20] Maududi, Human Rights In Islam, hlm 30 dalam Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[21] Riwayat Bukhori dalam Bab E-Quallun Nabi”
[22] Tidak jarang pada masa Rasulullah antara majikan dan budak dinikahkan seperti  Zaid seorang budak menikahi salah satu kemenakan Rasulullah
[23] Baca laporan penelitian Pelanggaran HAM dalam Komando Jihad, Pusham UII, 2008
[24] HR Abu Daud dan Tirmidzi dalam Mishkat Kitabul Imarah wal-Qadha
[25] HR Muslim dalam Kitabul Iman
[26] Lihat Haykal, Abu Bakar, hlm 94 dalam Syekh Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[27] Shibli Nomani, op. cit , hlm 285
[28] Miskhat Kitabul Imarah wa Qadha dalam Syekh Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[29] HR An-Nasa’I, Misykat Kitabul Imarah wal-Qadha
[30] Shibli Nomani, op. cit, hlm 285
[31] Syekh Syaukat Hussain, op.cit, hlm 74-75
[32] Amin Ashan Islahi, op.cit, hlm 38
[33] HR Muslim dalam Kitabul Hajj
[34] Misykat, Kitabul Hudud dalam Syekh Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[35] Ibid
[36] Athar Husain, The Glorious Caliphate, hlm 222 dalam Syekh Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[37] Shibhi Nomani, op.cit, hlm 286-287
[38] Iqbal, The Reconstuction of Religions Thought in Islam, hlm 169-170  dalam Syekh Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996
[39] Shibli Nomani, op.cit, hlm 266
[40] Shibli Nomani, op.cit, hlm 180
[41] Syekh Syaukat Hussain, op.cit, hlm 92
[42] HR Muslim, dalam Babul Faraidh
[43] Shibli Nomani, op.cit, hlm 269
[44] Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthoniyah dalam Syekh Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, 1996

Tidak ada komentar: