Senin, 11 April 2011

Tentang Kemanusiaan

... M. Syafi'ie

Sekian lama pertanyaan-pertanyaan menggelisahkan menggetar dihati. Tentang persoalan kebangsaan, keagamaan, gerakan dan sistem sosial lainnya yang terus menerus berada dalam ruang yang akut dan menindas.

Ketika bangsa ini sudah memekikkan kemerdekaan dan disambut suasana apresiatif oleh seluruh penduduk bangsa ini- kita mengharapkan bahwa bangsa ini akan keluar dari kemelut penindasan yang terjadi. Kolonialisme yang terjadi cukup sudah memberikan penyiksaan dan mengangkangi kreatifitas dan kebudayaan di bangsa ini. Tidak perlu terjadi dan diulang-ulang kembali. Kita sangat muak dengan kolonialisme karena muatannya yang mendehumanisasi dan tidak menghargai terhadap perbedaan-perbedaan sosial. Dalam jiwa kolonialisme persepsi kebenaran berada dan melekat dengan identitasnya dan yang lain tidak lain hanyalah seuntas sampah yang harus dihancurkan, dibuang dan dihanguskan. Kebenaran hanyalah milik subyek dan dan yang lain tidak punya apa-apa ; Pikiran pihak lain dianggap goblok dan sangat bodoh. Kolonialisme adalah wajah kelaliman, kedzaliman dan keangkuhan. Karenanya wujudnya tidak akan pernah dibenarkan bagi mereka yang mempunyai pikiran waras.
Sampai detik ini pertanyaan dan kegelisahan dihati senantiasa muncul dan bergemeriak. Mengapa penindasan-penindasan terus terjadi dan berulang-ulang. Ketika kolonialis asing pergi dan meninggalkan bumi Indonesia ini ada harapan bahwa kita terbebas dari penjajah yang menjarah bumi dan pikiran masyarakat. Seokarno berkuasa tapi prilakunya juga menjadi tiranis setelah membatasi pemaknaan demokrasi sebagai keterpimpinan dan dia lupa terhadap janji-janjinya yang akan membawa kemerdekaan kepada yang seutuhnya. Soeharto tidaklah lebih dari tokoh tiranik baru yang menggantikan tirani Seokarno. Bahkan lebih buruk dan menjadikan kekuasaannya sebagai medium imprealis, kolonial dan menindas rakyatnya sendiri. Begitu banyak kasus kekerasan terjadi dari kasus DOM di Aceh, Penculikan para aktifis, serta kasus lainnya yang sangat tiranis, represif dan otoriter. Politik, hukum dan ekonomi pada era Soeharto menjadi sistem yang meligitimasi terhadap kekuasaan otoritarian- rakyat dirampas hak-haknya menangis tersedu.

Reformasi yang merupakan puncak dari kemarahan dan kemuakan terhadap kolonial dan represifitas orde baru juga sama kita harapkan akan menjadi jalan keluar dari krisis yang terjadi. Tapi entah reformasi ini juga menjadi media penindasan elit pemerintah terhadap rakyatnya dan pemerintah secara lebih sistematik dan prosedural merampas hak-hak rakyat dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro terhadap kepentigannya, partainya serta berkonspirasi dengan kepentingan-kepentingan pasar. Diantara kebijakan tersebut yang meliputi Perpres 55 tahun 2005 tentang kenaikan BBM, Perpres 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan umum yang nota bene tindak lanjut dari pertemuan infra struktur summit 2005, keberadaan Exxon Mobil dan Freeport yang menguasai banyak proyek, Undang-Undang Sumber Daya Air, Undang-Undang Migas, Undang-Undang Terorisme yang nota bene proyek AS-Inggris, Undang-Undang Ketenagakerjaan, PP 37 tahun 2006 (di Yogyakarta Perda 6 tahun 2006), KKR yang dibubarkan, KPK yang dihhabisi kewenengan Ordinary Crimenya, Komisi Yudisial yang ompong serta masih banyak kebijakan-kebijakan lainnya yang tidak lain merupakan proyek dari konspirasi elit dengan para pemodal, koruptor, penjahat HAM serta utamanya konspirasi dengan kepentingan partai dan penumpukan kekayaan untuk diri sendiri.

Saya tidak mengerti mengapa bangsa indonesia yang kurang lebih 62 tahunan ini lebih yang nota bene lepas dari penjajah ini terus terkapar, terperosok dan sedu tangisnya semakin mengeras dan kehabisan air mata. Betulkah kita sudah merdeka ?betulkah kita sudah mempunyai pemimpin dan wakil yang memang menyuarakan hak-hak kita ? dan pertanyaan-pertanyaan yang lain bermunculan dihati ini dan semakin banyak pertanyaan tubuh ini menggigil resah, kecewa dan muak. Ya, saya muak dengan penghiantan dan kebohongan-kebohongan yang terjadi. Kita belum merdeka termasuk saya juga belum merdeka. Kita tertindas termasuk saya juga ditindas dan merasa tertindas. Siapakah yang menindas???

Saya berfikir kayaknya kita semua penindas dan pencipta kekerasan yang terjadi di muka bumi. Tidak. Saya ingin merdeka dan tidak ingin menjadi penindas dan kita sepakat bahwa kita tidak ingin jadi penindas-penindas baru sebagaimana mereka yang kita teriakkan sebagai pengkhianat dan penindas anti rakyat.

Sampai disini, saya berfikir bahwa kita harus bergerak dan maju terus. Meneriakkan apa yang kita anggap sebagai prilaku otoriter, represif, totalitarian, kolonial, dan imperial. Kita tidak boleh mati dan tidur pulas dalam buaian-buaian dunia dan asyik. Sebagaimana dalam teks agama bahwa manusia dimuka bumi ini diciptakan sebagai kholifatullah fil Ardh dan Abdullah untuk itulah sebagai manusia kita wajib bergerak dan menjadi pribadi-pribadi agent of change untuk senantiasa meneriakkan terciptanya nilai humanisme dan liberasi dalam kehidupan sosial. Karenanya sebagai manusia yang beragama kita wajib menolak prilaku yang tidak humanis dan tidak memberikan nilai-nilai memerdekakan.

Kemerdekaan dan nilai humanisme harusnya mendarah daging dari kehidupan kita. Sadar atau tidak kemerdekaan dan humanisme merupakan ruh yang fitrawi dalam ruang kehidupan. Orentasi keberadaan agama, Negara ataupun sistem itu sendiri sebenarnya ingin menciptakan keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, ketenangan serta pengakuan terhadap manusia yang mempunyai pikiran. Maka menjadi pertanyaan ketika sebuah agama, Negara ataupun sistem menjadi mikanik yang subyektif, dogmatik serta melepaskan terhadap the other obyektif kebutuhan dan keberadaan manusia. Ketika agama sudah membunuh perbedaan, menutup pikiran (ijtihadiyah) dan ada klaim kebenaran (truth claim) betulkah itu agama yang akan menciptakan keadilan dan kehidupana yang berperadaban kedepan?, dan ketika Negara sudah menjadi sistem yang sentralistik, dogmatik yuridis dan kebenaran elitis betulkah Negara sudah menjadi pengayom dan memberikan kesejahteraan pada rakyat? Dengan bahasa sederhana hati ini berucap tidak!. Sebab Agama dan Negara itu ada karena ingin menciptakn keadilan, kebersamaan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Agama dan Negara ingin membangun cita-cita keadaban di muka bumi. Maka tatanan yang harus dibangun adalah nilai-nilai yang dialogis, manusiawi dan universal.

Tidak ada komentar: